Selasa, 20 Desember 2011

Cyber World is Your Artificial "Real-Life"

Melihat judulnya, entah apa yang saya pikirkan dan kalian artikan. Tetapi, topik kita hari ini sebetulnya sudah sering terdengar entah dari pengalaman orang lain maupun diri sendiri.
Apa sih sebetulnya maksud judulnya? Singkat kata, hari ini saya akan share pengalaman pribadi dan teman-teman saya dalam kehidupan dunia maya (cyber world) yang secara tidak langsung, sadar atau tidak sadar, menjadi bagian hidup nyata (real life) kita. Namun, dibalik semua kehidupan nyata yang didasari dari cyber world itu, apakah kita yakin bahwa itu benar-benar kehidupan kita atau hanya kita buat untuk melengkapi hidup kita? Loh kok bahasanya agak bikin capeek ya? Yaa untuk lebih jelasnya, yuk sharing lagi :)

Yang akan saya share kali ini adalah pengalaman teman-teman dan saya dalam sebuah game online. Game online apa? Berinisial "C", dan tidak perlu saya sebutkan nama game-nya.
Permainan online atau kita sebut saja game online sudah sangat mewabah di era globalisasi ini, baik dari kaum muda sampai yang sudah bau tanah pun juga ikut merasakan nikmatnya bermain game online.
Apa sih sebetulnya yang mereka cari di dalam game online tersebut? Pertama, hal yang mereka cari adalah hiburan, melihat sebagian besar alasan para player/gamer aktif. Dari hiburan tersebut, akan muncul 2 opsi yaitu tertarik atau tidak tertarik. Saat kita memilih kata "tertarik", maka dari situlah muncul fokus baru kita untuk melirik dan mengenal game tersebut. Singkat kata, dari sinilah kita bisa menentukan apa game ini benar-benar menjadi suatu tantangan/hobi /kebiasaan baru kita atau sekedar pengisi waktu yang berakhir pada kebosanan.
Bagaimana kalu kita tertarik pada game online? Yaa tidak masalah pastinya, selama itu bukan menjadi prioritas hidup kita. Permasalahannya adalah saat kita mulai menikmati game online tersebut. Loh kenapa jadi masalah mbak? Saat kita menikmati, maka kita akan dilanda rasa penasaran untuk mencari titik puncak kesenangan, dan seringkali membuat kita menjurus ke arah "addict" atau "ketagihan". Pengaruh ketagihan ini pastinya menimbulkan dampak positif dan negatif. Saya akan share beberapa dampak positif dan negatif yang disesuaikan dengan pengalaman teman-teman dan saya sendiri.

Mencari teman baru...
Salah satu dampak positif dalam game online adalah mencari dan menemukan teman baru. Kita dapat bersosialisasi dengan player lain di dalam game, dengan menggunakan fitur umum game online seperti chat, secret talk, world, ataupun whisper. Fitur "ngobrol" ini bisa dilakukan private maupun publik, bebas digunakan untuk semua umur. Namun, dibalik semua sosialisasi itu, lagi-lagi kita bertanya dengan segala kegalauan hati "Siapa sebenarnya orang yang sedang diajak chatting?"
Beberapa dari mereka mungkin merasa cuek, tidak peduli siapa dan dimana si pelaku yang saat itu sedang chatting dengan kita. Tetapi saat kita merasa cocok, atau terjadi pertukaran pikiran yang entah simple atau ribet, atau apapun yang menarik telah sukses menjadi bahan bicara, akan pelan-pelan membawa kita untuk berpikir tentang latar belakang teman chat kita.
Mengisi waktu luang..
Mengisi waktu luang sudah pasti menjadi alasan populer pemain game di seluruh dunia, entah karena hidupnya terlalu stress sehingga kurang hiburan di dunia real, kehilangan pergaulan di dunia real, terlalu sibuk bekerja sebagai pengacara (pengangguran banyak acara), kurang kasih sayang, mencari sesuatu (?????!!!!), dan banyak curhatan lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Lewat pengisian waktu luang ini, kita akan menentukan apakah kita benar-benar bermain untuk mengisi waktu kosong atau jangan-jangan kita mengosongkan waktu untuk bermain atau yang lebih ekstrimnya lagi, kita mendapat fokus baru yang sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak disadari telah menggantikan prioritas hidup kita.

Kalau ada dampak positif, terus apa dong negatifnya?
Nanti dulu.. sebetulnya dari dampak positif ini juga bisa berakar ke hal negatif. Kembali saya menggunakan kata yang tidak asing lagi yaitu sadar dan tidak sadar. Yaa, sadar dan tidak sadar dari segala yang positif itu tidak menjamin kita untuk melewatkan jam tayang si negatif. Lebih jelasnya akan saya share, dan kembali lagi saya katakan bahwa yang saya share ini berasal dari pengalaman pribadi teman-teman dan saya sendiri.

Untuk dampak negatif, mari kita ingat-ingat dulu pembahasan tentang dampak positif kita yang baru saja kita intip. Mencari teman, bisa lebih diperjelas mbak? Saya rasa sudah cukup jelas, hanya perlu diperdalam saja penjelasannya ya.. Mencari teman, rasa penasaran akan teman "bayangan" kita, mungkin sedikit menakutkan jika dibayangkan atau dituliskan, namun menyenangkan jika dilakukan.
Sekedar cerita yang sangat pendek. Berawal dari saya bermain game berinisial "C", yang sudah dilanda kebosanan karena menjalani quest/misi dalam game. Awalnya saya merasa ini hanya mengisi waktu luang saya saja, karena pertengahan semester itu biasanya antara waktu kosong dengan waktu malas itu sulit dibandingkan. Oke saya tidak bermaksud curhat, curcol akan kisah hidup disini, jadi tenang saja ya para pembaca, nikmati saja membacanya sambil minum kopi.
Singkat kata, saya mengajak pacar saya ikut bermain game ini, dan alhasil saya tertarik dan mungkin saja sadar dan tidak sadar, saya telah membuat fokus baru dalam kehidupan saya. Dalam game ini, saya dan pacar saya memutuskan untuk masuk ke dalam salah satu perkumpulan player (guild), dimana saya bisa mengobrol dengan teman-teman baru sampai lupa waktu. Dalam pengisian waktu bersama game, saya berhasil mempola pikiran saya untuk menjadi salah satu player serius di dunia game tersebut, mulai memikirkan kesejahteraan guild, kehidupan dan curahan hati guild, serta berbagai kerjasama sekaligus transaksi dunia game. Yaa sampai akhirnya, tiada hari tanpa bermain game "C", bercerita, chatting dengan teman-teman sampai bosan.

Cuma itu aja? Ya sebetulnya banyak kok pengaruh "mencari teman" ini. Jadi apa masalahnya? Masalahnya adalah apakah teman kita ini hanya hidup sebatas dalam game, atau telah menyentuh, mencolek kehidupan real/nyata yang kita miliki. Memang apa masalahnya kalau sebatas dalam game atau sampai ke real? Sebetulnya tidak ada masalah selama pergaulan itu bersifat sehat dan nyaman. Tetapi jika sampai ke real, pastinya akan menjadi sesuatu yang penting untuk mencari tahu latar belakang teman kita tersebut. Disini bukan karena kita pilih-pilih teman, pilih kasih, pandang bulu, dan lain-lainnya. Perlu diketahui bahwa teman kita bisa menjadi orang yang berbeda saat menyangkut hubungan dengan kehidupan nyata. Kalau ternyata ga beda om? sama aja gitu? Yaa baguslah kalau ternyata sama.. Masalahnya kalau beda, terus bedanya itu bukan lebih positif melainkan negatif, apakah kita bisa membawa teman 'cyber' kita ke dalam kehidupan nyata kita?
Lalu, gimana caranya kita bisa tahu siapa teman 'cyber' kita itu sebenarnya mbak? Saya terbiasa dengan memanfaatkan waktu gathering bersama teman-teman entah itu dari sekolah, kampus, komunitas, bahkan sampai keluarga besar. Pemanfaatan gathering ini saya usulkan kepada teman-teman saya dalam game tersebut, dengan tujuan untuk mengenal mereka, walaupun gathering tidak menjamin mengenal secara pasti siapa teman-teman 'cyber' kita.
Apalagi sih akar negatif dari tujuan mencari teman dalam game online?
Setiap orang yang bermain game, tentunya memiliki latar belakang pergaulan yang berbeda. Beberapa diantaranya mungkin adalah manusia eksis di dunia nyata, manusia dengan pergaulan standar biasa, bahkan manusia yang tidak mempunyai pergaulan/ individualistis/ terkucilkan/autis dalam kenyataan. Perbedaan pergaulan ini akan menjadi suatu yang saling melengkapi satu sama lain atau bisa menjadi benturan keras karena perbedaan pikiran yang terlalu jauh. Dari perbedaan ini akan muncul berbagai jenis cara bergaul di dalam dunia game, membuat sikap atau watak baru bagi para player, dan aktivitas yang jarang atau tidak pernah dilakukan player baik dalam kehidupan game maupun nyata.
Membuat sikap atau watak baru? apa maksudnya masbro?
Bicara soal watak dan sikap, seperti yang sebelumnya saya katakan di paragraf entah yang keberapa, ada kemungkinan seseorang untuk menjadi orang lain dalam dunia game. Tidak heran jika ada orang pemalu di dunia nyata menjadi eksis atau tukang komentar di dunia game, orang yang tidak punya percaya diri menjadi seorang yang sombong di dunia game, orang yang terbiasa hidup mandiri menjadi sangat manja di dunia game, dan berbagai macam lainnya. Game menjadi dunia yang tidak mengenal batas, wajah, dan latar belakang kehidupan sosial manusia secara nyata, sehingga membuat player merasa sangat nyaman untuk bersosialisasi didalamnya atau merasa tersiksa, sehingga membuat beberapa player yang kurang stabil, bimbang, galau akan menciptakan watak dan sikap baru pada dirinya sendiri.

Fitur yang mendukung
Game memiliki beberapa fitur yang mendukung terjadinya sosialisasi dalam dunianya. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas tadi, fitur chat dan transaksi menjadi salah satu pendukung berjalannya hubungan sosial dalam game tersebut. Selain itu, ada juga game yang bisa melakukan invite atau party, seperti game "C" yang saya mainkan ini. Dengan invite, kita bisa mengajak teman kita untuk bergabung ke dalam suatu party/ team, atau suatu perkumpulan besar yang disebut guild atau clan,seperti yang telah saya katakan diatas.
Dalam guild, akan terjadi sosialisasi satu sama lain dengan para player yang sedang online. Guild merupakan salah satu tempat tinggal dimana kita bisa mendapatkan teman-teman baru. Game memberikan fasilitas persaingan dengan guild lain, seperti versus, quest guild, guild ranking, dan lain-lain. Dari guild juga secara tidak langsung memberikan fasilitas persaingan seperti kerusuhan di chat world, mata-mata guild, penyebaran gosip-gosip, strategi guild, perkumpulan komentator pedas dan nikmat, dan lain-lain.
Selain itu fitur sosial lainnya yang sedang populer akhir-akhir ini adalah married. Fitur married ini sebetulnya sudah populer semenjak munculnya game "menari" secara virtual, yaitu dalam game kita (karakter) akan menari sesuai dengan panduan, dan di kenyataannya jari kita pun diajak menari sampai kapalan. Fitur married adalah sensasi game dimana karakter berkelamin pria bisa menikah dengan karakter berkelamin wanita.
Kalau kelaminnya sama gimana bos? Bisa saja, minta publisher game untuk membuat fitur gayclub demi kesejahteraan mereka yang senang married satu kelamin.
Kenapa populer? Biasanya fitur married ini menjadi salah satu fasilitas serba guna, seperti mencari teman untuk menemani kebosanan saat berjuang dalam game, mencari penghasilan gratis (pemalak pasangan), penipuan, mencari popularitas dalam game, mencari jodoh, mencari selingkuhan, mencari tempat curhat, menjadi playboy/playgirl dalam dunia game karena secara real mungkin telah gagal mutlak menjadi seorang kelinci berdasi, dan motivasi lainnya. Married menjadi fasilitas menarik, apalagi jika dibumbui oleh gosip-gosip hangat yang membuat player menjadi semakin eksis di dalam game. Akan tetapi, seringkali fitur ini menjadi kunci untuk menembus kehidupan nyata player/gamers, terutama dalam hal cinlok (cinta lokasi). Beberapa kasus yang ditemukan adalah married yang dianggap seolah-olah nyata di kehidupan, sehingga tidak heran jika ada saja cerita anak muda jaman sekarang yaitu pacaran karena kenal dari game, selingkuh dalam game berhubung pasangan asli tidak tahu/tidak bermain game tersebut, mencari figur yang diidolakan untuk menjadi pendengar dan penasihat pribadi secara real, bahkan sampai pertikaian yang berlebihan dengan pasangan real diakibatkan karena permasalahan fitur married ini.

Bagaimana tentang gamers yang mengisi waktu luang dengan bermain game?
Waktu luang memiliki arti sebagai waktu yang benar-benar kosong, setelah segala prioritas kehidupan kita sudah dilakukan dengan tuntas.
Apakah benar game itu sebagai waktu luang? Beberapa diantara para pemain game memang benar-benar bermain untuk mengisi waktu luang, namun seringkali ada sebagian diantaranya yang menjadikan game sebagai kegiatan/aktivitas prioritas. Akhirnya, tujuan mengisi waktu luang ini berakar ke dampak negatif dimana kita pelan-pelan melupakan kebiasaan dan aktivitas rutin dalam kehidupan nyata. Inilah yang menyebabkan banyak pemain game yang cenderung menggagalkan tujuan hidup di dunia nyata, untuk membela waktu dan hari-harinya didepan komputer. Saat prioritas hidup nyata mulai dijadikan toleransi untuk ketidakharusan/ ketidakwajiban, maka pemain game akan semakin menipiskan gambaran masa depannya di dunia nyata secara perlahan. Jika terus dibiarkan akan menjadi suatu halangan/ hambatan besar dalam menempuh tujuan, cita-cita di dunia nyata.

Jadi, ane harus gimana gan biar bisa maen game dengan tenang?
Kuatkan iman dan prioritas hidup real-mu, karena kesenangan apapun yang diberikan oleh sebuah game akan memiliki limit dan masanya. Akan ada masa dimana game itu akan melemah popularitasnya, dan saat itu juga akan mempengaruhi keberadaanmu sebagai orang yang berada didalam game tersebut. Singkat kata, jika kamu seorang yang addict/ ketagihan pada suatu game, cobalah melepaskannya pelan-pelan, kembalikan rutinitas hidupmu seperti sebelum kamu mengenal game tersebut, sebelum terlambat. :)

Oke sampai disini sharing dari saya. Jika ada komentar ataupun tambahan cerita dan sudut pandang kalian mengenai topik ini, silahkan di-share untuk pembelajaran. Sekali lagi, apa yang telah saya tuliskan diatas adalah pengalaman hidup teman-teman dan saya sendiri. Thanks.. :)

Senin, 19 Desember 2011

About Forgiveness- Tentang Mengampuni

Bicara soal memaafkan, mengampuni, bukanlah sebuah bahasa baru yang belum dikenal banyak orang. Yaa, kita  tau beberapa kata, istilah, atau berbagai bahasa yang mengartikan sebutan "mengampuni" atau "memaafkan" ini. Tetapi.... apa selama ini kita benar-benar tau, yakin kalau kita paham akan maksud dari kata yang baru saja kita sebut tadi? Disini hanya share pemikiran saya tentang arti kata "mengampuni" atau "memaafkan". Tidak ada yang perlu diperdebatkan, karena masing-masing orang pastinya punya pandangan sendiri tentang arti kata tersebut, sesuai dengan pengalaman hidup yang dijalaninya setiap hari.

Forgiveness.. what is this? something like product? or label?


Maaf atau ampun atau apapun istilahnya, adalah satu kata dan sikap yang sebetulnya sulit , susah dilakukan sepenuhnya oleh manusia di bumi. Kenapa sulit? Biasanya dalam kasus yang menggunakan kata "maaf" atau "ampun" ini akan ada pihak benar dan salah, pihak untung dan rugi, pihak senang dan sedih/marah. pihak kalah dan menang, atau berbagai alasan lain yang masing-masing bertolak belakang.
Lalu, siapa yang salah dan yang benar? Siapa yang harus meminta maaf dan memaafkan? Sebenarnya tidaklah penting menjadi pembahasan siapa atau dimana kata "maaf" itu digunakan dan disikapi secara nyata. "Maaf" atau "ampun" sepenuhnya adalah berasal dari kesadaran diri manusia itu sendiri. Permintaan maaf akan berasal dari orang yang merasa melakukan kesalahan kepada siapapun, dengan adanya kesadaran dari diri sendiri untuk mengakui dan menyesali perbuatan atau perkataan salah yang dilakukannya. Begitu juga untuk yang memaafkan orang lain dengan sepenuhnya.
Terus.. Gimana caranya biar maaf itu dibilang sepenuhnya?
Permintaan maaf dan sikap memaafkan tidak perlu menggunakan banyak atribut, embel-embel dokumentasi, atau reality show di televisi agar terlihat "sepenuhnya". Oke, saya coba share tentang pendapat saya..
Tentang permintaan maaf atau minta ampun. Pastinya disini kita punya salah, makanya kita minta maaf kan? Kata siapaaaa??? Terkadang, saat kita berada di posisi yang benar pun, kita juga bisa meminta maaf. Kok bisa?? Ya jelas bisa, kenapa gak! Dalam kasus permintaan maaf untuk kasus "manusia tidak bersalah" ini butuh ketabahan, kesabaran, kerelaan, dan mungkin pengorbanan untuk MENGALAH.
Loh... Kenapa harus mengalah sih masbrooo??? Tentang sikap mengalah ini bukan berarti kita adalah budak atau si pengecut yang tidak berani berperang. Ada momen dimana manusia tidak bisa mengendalikan emosi, tidak berpikir realistis, merasa tidak salah (walaupun mungkin salah), terlalu galau, dan banyak macam lainnya dimana semua momen tersebut akan memicu pertengkaran. Singkat kata, kan gak enak toh berantem, cakar-cakaran, tonjok-tonjokan sampe sewa protekom kampus buat jadi wasit tinju nasional. Jadi, untuk itulah kelebihan dari permintaan maaf yang berasal dari mengalah.
Oke terus gue rugi doong mbak? Kan dia yang salah, kok gue yang ngalah? Intinya cuma 1 aja sih, ente emang rugi di dunia manusia, tapi pastinya dicatat di buku pahala surga, dan pahala itu bisa ente nikmatin saat ente hidup atau setelah ente koid, meninggal, atau apapun sebutannya. Terus orang yang menganiaya gue secara mental itu gimana? Enak dong dia? Yaa itu bukan urusan lo pastinya.. Itu urusan Yang Maha Esa untuk kasih bingkisan special buat doi.

Permintaan maaf udah kan.. Oke saya juga share soal memaafkan.
Memaafkan itu aslinya susah, sulit, dan lebih banyak sikap terpaksa daripada ketulusannya. Menurut saya tentang memaafkan itu simple saja.
Forgiveness is "forget it". Jika kita memaafkan orang lain, maka kita juga bisa melupakan kesalahan orang tersebut.
Ya susah toh mbak'e.. masa harus install ulang kepala dulu? Yaa sebetulnya sih kamu tidak perlu install ulang isi kepalamu, nantinya malah jadi penyakit yang disebut amnesia. Ya cukup kamu hapus dan lupakan. Kalau dalam istilah gaul komputer sih katanya abis delete ya kosongin recycle bin-nya biar tidak berbekas. Susah? Oh jelas... Jelas susah dan sangaaat susah. Loh tadi bilangnya simple? Perlu diketahui, yang saya maksud dengan simple adalah simple menulisnya di blog ini, bukan membuktikan ke real-nya.
Saat kamu bisa melupakan kesalahan orang lain, saat itu juga kamu bisa memaafkan orang tersebut dengan segenap hatimu. Tidak akan ada kecurigaan atau keinginan untuk membalas dendam dan ucapan sumpah serapah dari dirimu.

Nah mungkin sampai disini saja sharing saya tentang kata "maaf" dan "ampun" sesuai dengan pengalaman hidup yang saya hadapi. Mungkin akan banyak sekali kisah-kisah yang berhubungan dengan topik kita hari ini dari kalian. Bisa kalian share untuk pembelajaran. Thanks!