Senin, 19 Desember 2011

About Forgiveness- Tentang Mengampuni

Bicara soal memaafkan, mengampuni, bukanlah sebuah bahasa baru yang belum dikenal banyak orang. Yaa, kita  tau beberapa kata, istilah, atau berbagai bahasa yang mengartikan sebutan "mengampuni" atau "memaafkan" ini. Tetapi.... apa selama ini kita benar-benar tau, yakin kalau kita paham akan maksud dari kata yang baru saja kita sebut tadi? Disini hanya share pemikiran saya tentang arti kata "mengampuni" atau "memaafkan". Tidak ada yang perlu diperdebatkan, karena masing-masing orang pastinya punya pandangan sendiri tentang arti kata tersebut, sesuai dengan pengalaman hidup yang dijalaninya setiap hari.

Forgiveness.. what is this? something like product? or label?


Maaf atau ampun atau apapun istilahnya, adalah satu kata dan sikap yang sebetulnya sulit , susah dilakukan sepenuhnya oleh manusia di bumi. Kenapa sulit? Biasanya dalam kasus yang menggunakan kata "maaf" atau "ampun" ini akan ada pihak benar dan salah, pihak untung dan rugi, pihak senang dan sedih/marah. pihak kalah dan menang, atau berbagai alasan lain yang masing-masing bertolak belakang.
Lalu, siapa yang salah dan yang benar? Siapa yang harus meminta maaf dan memaafkan? Sebenarnya tidaklah penting menjadi pembahasan siapa atau dimana kata "maaf" itu digunakan dan disikapi secara nyata. "Maaf" atau "ampun" sepenuhnya adalah berasal dari kesadaran diri manusia itu sendiri. Permintaan maaf akan berasal dari orang yang merasa melakukan kesalahan kepada siapapun, dengan adanya kesadaran dari diri sendiri untuk mengakui dan menyesali perbuatan atau perkataan salah yang dilakukannya. Begitu juga untuk yang memaafkan orang lain dengan sepenuhnya.
Terus.. Gimana caranya biar maaf itu dibilang sepenuhnya?
Permintaan maaf dan sikap memaafkan tidak perlu menggunakan banyak atribut, embel-embel dokumentasi, atau reality show di televisi agar terlihat "sepenuhnya". Oke, saya coba share tentang pendapat saya..
Tentang permintaan maaf atau minta ampun. Pastinya disini kita punya salah, makanya kita minta maaf kan? Kata siapaaaa??? Terkadang, saat kita berada di posisi yang benar pun, kita juga bisa meminta maaf. Kok bisa?? Ya jelas bisa, kenapa gak! Dalam kasus permintaan maaf untuk kasus "manusia tidak bersalah" ini butuh ketabahan, kesabaran, kerelaan, dan mungkin pengorbanan untuk MENGALAH.
Loh... Kenapa harus mengalah sih masbrooo??? Tentang sikap mengalah ini bukan berarti kita adalah budak atau si pengecut yang tidak berani berperang. Ada momen dimana manusia tidak bisa mengendalikan emosi, tidak berpikir realistis, merasa tidak salah (walaupun mungkin salah), terlalu galau, dan banyak macam lainnya dimana semua momen tersebut akan memicu pertengkaran. Singkat kata, kan gak enak toh berantem, cakar-cakaran, tonjok-tonjokan sampe sewa protekom kampus buat jadi wasit tinju nasional. Jadi, untuk itulah kelebihan dari permintaan maaf yang berasal dari mengalah.
Oke terus gue rugi doong mbak? Kan dia yang salah, kok gue yang ngalah? Intinya cuma 1 aja sih, ente emang rugi di dunia manusia, tapi pastinya dicatat di buku pahala surga, dan pahala itu bisa ente nikmatin saat ente hidup atau setelah ente koid, meninggal, atau apapun sebutannya. Terus orang yang menganiaya gue secara mental itu gimana? Enak dong dia? Yaa itu bukan urusan lo pastinya.. Itu urusan Yang Maha Esa untuk kasih bingkisan special buat doi.

Permintaan maaf udah kan.. Oke saya juga share soal memaafkan.
Memaafkan itu aslinya susah, sulit, dan lebih banyak sikap terpaksa daripada ketulusannya. Menurut saya tentang memaafkan itu simple saja.
Forgiveness is "forget it". Jika kita memaafkan orang lain, maka kita juga bisa melupakan kesalahan orang tersebut.
Ya susah toh mbak'e.. masa harus install ulang kepala dulu? Yaa sebetulnya sih kamu tidak perlu install ulang isi kepalamu, nantinya malah jadi penyakit yang disebut amnesia. Ya cukup kamu hapus dan lupakan. Kalau dalam istilah gaul komputer sih katanya abis delete ya kosongin recycle bin-nya biar tidak berbekas. Susah? Oh jelas... Jelas susah dan sangaaat susah. Loh tadi bilangnya simple? Perlu diketahui, yang saya maksud dengan simple adalah simple menulisnya di blog ini, bukan membuktikan ke real-nya.
Saat kamu bisa melupakan kesalahan orang lain, saat itu juga kamu bisa memaafkan orang tersebut dengan segenap hatimu. Tidak akan ada kecurigaan atau keinginan untuk membalas dendam dan ucapan sumpah serapah dari dirimu.

Nah mungkin sampai disini saja sharing saya tentang kata "maaf" dan "ampun" sesuai dengan pengalaman hidup yang saya hadapi. Mungkin akan banyak sekali kisah-kisah yang berhubungan dengan topik kita hari ini dari kalian. Bisa kalian share untuk pembelajaran. Thanks!

7 komentar:

  1. Kalo kita pernah berbuat salah nih mba'. trus pas ketika mw bilang mnt maaf eh dy malah menghlang entah kemana. no HP ganti, alamat pndah, FB d block, twit d block. tp ane sdh mnt maaf lwt yg d atas tp ttp aja msh ada perasaan bersalah kalo nggak blg lgsg ke orangnya :(

    BalasHapus
  2. Dear Iqbal,
    kalo dari hati kita secara tulus dan berjiwa besar sudah meminta maaf dengan segala niat kita, nah tinggal kita tunggu saja orang yang kita tunggui itu memaafkan kita. Sampai kapan? Disini yang perlu kita tahu hanyalah bahwa kita sudah meminta maaf. Memang tidak semua kesalahan itu mudah dimaafkan, tapi saya yakin kamu sudah meminta maaf yang disertai dengan perbuatan dan niat untuk merubah kesalahan itu kan? Ya biarlah Tuhan yang tahu kapan orang itu memberikan maaf kepadamu. Perasaan bersalah dari dirimu itu wajar saja kalau sering datang seketika, tapi akan lebih baik kamu berpikir positif dan menjadikan kesalahan yg kamu buat kepada orang itu sebagai pembelajaran dimana kamu akan lebih menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. :) thanks commentnya ^^

    BalasHapus
  3. nah masalahnya ini saya blm sempet buat bilang minta maaf :(
    dy sudah mengetahui kalau saya mau minta maaf, mungkin dgn alibi sakit hati dy lgsg ngeblock smwnya bt bisa berhubgan dgn dy :(( help

    BalasHapus
  4. Apa koneksi dengan dia benar-benar terputus? Kalau masih ada teman atau perantara dengan dia, bisa kamu sampaikan kok maaf lewat mereka, entah dengan surat ataupun dengan kata-kata. Tapi jika sudah tidak ada perantara lagi, disini cukup hati kita yang telah bersedia meminta maaf dengan menyadari segala kesalahan kita, dan berniat untuk berubah. Dengan begitu, Yang Maha Esa tahu bahwa kamu sebetulnya telah meminta maaf, walaupun tidak langsung ke dia. Biarkan Yang Maha Esa jadi perantara permintaan maafmu ke dia :)

    BalasHapus
  5. wah semoga aja mbak :)
    kembali ke awal saya tetap merasa terbebanin jika tidak mendengar lgsg pemberian maaf dr dy :'(
    tp ya mw blg apa lagi saya cm bs menunggu dan menunggu :')
    makasih yah mba' :)

    BalasHapus
  6. Memang sulit menghilangkan beban jika kita belum meminta maaf langsung. Tetapi, hal yang lebih penting adalah dimana kita sepenuhnya berniat meminta maaf dan merubah kesalahan itu. Suatu hari nanti akan ada saatnya kita bisa mengatakan langsung pada orang itu, dan sekalipun tidak ada kesempatan untuk bertemu, percayalah bahwa permintaan maafmu sebenarnya sudah terkirim ke dalam hidupnya, jika kamu sepenuhnya merubah kesalahanmu :)

    BalasHapus