Kamis, 12 Januari 2012

Lonely Road

Wah judulnya terlihat galau ya? Pasti mau cerita yang galau-galau sedih-sedih lebai-lebai deh..
Hmm, komentar diatas pastinya akan muncul dari pikiran dan hati sebagian besar dari kalian yang baca judul ini.
Saya hanya mau share pengalaman saya hari ini.. Aslinya memang ga penting banget buat dibaca, tapi yang merasa penasaran boleh baca tidak dilarang dan tidak perlu bayar. :)

Hari ini seperti biasa hujan deras. Oops tanggal berapa ya sekarang? 12 Januari 2012.
Angin kebut-kebutan buat lomba lari sama air hujan, banyak pohon muda yang memiliki kebiasaan baru menari dangdut di tengah-tengah hujan, sampai dari ranting patah, hingga batangnya juga patah, rubuh, menutupi jalan, dan akhirnya macet. Hari ini saya bangun pagi-pagi sekali, tepatnya jam 6 pagi.
Itu udah siang loh mas! Buat saya jam 6 pagi itu adalah subuh, karena semenjak saya meninggalkan bangku SMA, saya sangatlah jarang bangun sepagi itu.
Pagi-pagi ke kampus, dan lagi-lagi lihat kanan kiri jalanan macet, asap bis dan angkot sebagai pergantian udara di tengah jalan, dan perut belum sempat terisi apapun. Yaa lapar di pagi hari membuat kepala pusing terutama diselingi dengan suara klakson mobil dan motor yang tidak pernah sabar antri macet di jalan.
Saat badan lesu, capek, lemas, dan efek-efek jompo lainnya yang terjadi pada saya ini sudah cukup menjadi tantangan besar untuk menjalani kehidupan di tanggal 12 Januari 2012.
Saat itu juga saya harus bertemu dengan teman-teman skripsi saya, dan dari kedua teman skripsi saya itu adalah mantan pacar saya. Okee, pagi lemas letih lesu diwarnai dengan wajah seorang mantan pacar yang sedang makan di warteg bersama teman skripsi satunya, cukup menantang sekali hari ini.
Singkat cerita, apa yang kami (saya dan kelompok skripsi) harapkan secara akademis pada hari ini, dapat dikatakan 90% gagal. Saya tidak mau bercerita apa gagalnya, yang jelas bukan tidak lulus yang saya maksud, karena sidang saja belum, mau lulus dari nenek moyangnya siapa?
Selingan waktu dimana saya menahan emosi karena kegagalan hari ini, diwarnai dengan perkataan teman skripsi saya yang membuat hati saya cenat cenut seperti yang kakak-kakak smash bilang di TV.

"Direlain aja.. Udah ga mungkin bisa balik lagi"
Sekilas terdengar biasa saja kalimat ini, namun buat saya ini adalah kalimat penambah beban dan ilustrasi negatif dalam hati dan pikiran saya.
Saya berusaha mengontrol emosi, dan mencari beberapa teman saya buat numpang curcol.
Pada hari itu entah kenapa semua teman tidak ada yang bisa menemani saya, dan lagi-lagi saya melihat sikap-sikap yang tidak jelas dari berbagai orang yang mengesalkan.
Tiba-tiba terlintas di kepala saya untuk contact teman saya saat semester pendek berjalan. Alhasil setelah saya contact dia, sedikit terhibur dengan kegalauan akademis dia. Bukannya kesusahan dia yang buat saya terhibur, tetapi seperti biasa teman saya yang satu ini bisa menyampaikan kata-kata unik yang cukup menghibur sesaat.
Yaa hari ini, seperti kiamat buat saya.. tetapi saya berpikir lagi, kalau hari ini kiamat, seharusnya saya sudah mati beberapa jam atau detik yang lalu, namun nyatanya Tuhan masih memberi saya kesempatan hidup dan bergalau ria di hari ini.
Seharusnya saya bersyukur, ya itulah, kalau orang galau jangankan ingat bersyukur, buat bernapas saja sudah lupa caranya. Yap, terimakasih buat Tuhanku yang sudah memberi kesempatan hidup hari ini.


* Saat semua temanmu dan orang-orang yang kamu sayangi pergi dan menghilang, saat semua keadaan juga tidak bersahabat denganmu, ingatlah bahwa saat itu juga Tuhanmu sedang berada disebelahmu, menunggumu dengan mengulurkan tangan persahabatan yang akan menemani sepinya jalan kehidupanmu saat itu*

He will hold your hand when you walk alone. He will give His address when you don't know where you go on lonely road

Tidak ada komentar:

Posting Komentar