Yaap sebelumnya saya mau mengucapkan "Happy New Year 2012" atau "Selamat Tahun Baru 2012" untuk semuanya yang membaca blog saya. Thanks untuk setiap yang membaca blog saya sebelumnya hohoho...
Kalau lihat dari judul, pastinya sudah tidak asing lagi memandang kata-kata tersebut. Tapi apa sebenarnya yang mau saya share kali ini?
Mungkin kali ini, saya akan sedikit share pengalaman seorang teman saya yang tidak perlu saya sebutkan namanya, dan jika dari kamu sekalian yang merasa memiliki pengalaman dan sensasi yang sama dengan pengalaman dia, silahkan tinggalkan komentar kamu disini, atau bagi kamu yang punya pengalaman berbeda yang ingin dishare, silahkan juga share di kolom komentar.
Sebut saja namanya Bee. Kenapa namanya Bee? Ya terinspirasi nonton Bumblebee lagi syuting transformer selama 2 hari di Trans TV, tapi tetap ingat, sekali lagi ini bukan nama asli teman saya, tapi nama samaran.
Bee adalah seorang anak muda yang berkemampuan akademis pas-pas saja, dengan berbagai keunikan dan keautisannya yang membuat dia pintar tidak, bodoh mungkin saja, LOH? katanya pas-pas saja tapi kenapa bodoh? Tenang, saya cuma ingin buat suasana garing di blog ini, jadi jangan terlalu dibawa serius ya...
Lalu apalagi kelebihan si Bee ini? Mohon maaf sebelumnya, blog ini bukan menceritakan coretan cerpen tentang kelebihan dan kekurangan teman saya si Bee ini.
Bee ini tidak jelek tapi juga tidak cantik, tidak ganteng tapi tidak buruk. Bee punya teman-teman walaupun tidak sebanyak teman-teman kalian, punya keluarga, dan juga punya pacar. Bee adalah orang yang paling percaya akan agama yang diimaninya tapi kenapa Bee suka lupa ke gereja? Tanya sendiri pada saudara Bee kalau soal ini. Dari semua yang disayangi Bee, teman-teman, kluarga dan pacar, Bee lebih memilih pacarnya sebagai orang yang paling disayang. Kalau Tuhan? Mungkin Tuhan, mungkin pacarnya, hanya Bee yang tahu detailnya.
Bee punya kebiasaan baru yang seumur-umur ga pernah jadi hobinya. Apa tuh kak? Hobi Bee yang terbaru di awal tahun 2011 adalah bermain game. Berawal dari main game bunuh-bunuhan, tembak-tembakan, tabrak-tabrakan, sampai game ringan yang hanya bermodalkan mouse kelas standar. Awalnya, Bee senang menemani pacarnya bermain game, merasa tertarik dan ingin share dengan pacarnya soal game, maka Bee pun juga ikut terjun ke dalam dunia gamers tersebut. Setelah itu, saat Bee mulai senang dengan yang namanya game itu, Bee berhasil menemukan game yang membuatnya ketagihan. Bee adalah orang yang emosional dan tidak pernah mau kalah, sehingga Bee tidak bisa terlalu sering main game berat seperti tembak-tembakan, bunuh-bunuhan, atau tebas-tebasan, karena jika Bee kalah dalam bermain yang menimbulkan kerusakan pada jiwa Bee, mungkin beberapa peralatan perang PC kamu juga akan mengalami kerusakan berat akibat pelampiasan sakit jiwanya itu. Singkat kata, Bee menemukan game ringan, dimana ketika dia emosi, dia hanya melemparkan mouse standarnya itu ke monitornya. Yaa mengurangi kerusakan lah setidaknya. Hahaha...
Bee juga mengajak pacarnya bermain game ringan tersebut, dan pacarnya pun berhasil mengalami ketagihan walaupun tidak separah si Bee ini. Dalam perjalanannya, Bee juga kuliah. Namun, kuliahnya itu seperti rutinitas yang membosankan saja bagi si Bee ini. Bee lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur, pergi kekosan pacarnya, bermain game, dan makan-makan snack sambil menonton acara Animax di kos dengan wajah masa kecil kurang bahagia. Bee juga punya kebiasaan terbaru membuka awal tahun 2011nya itu dengan sering begadang, sering tidak tidur, dan sering pulang larut malam. Bee sering bolos kuliah, dan akibat banyak kebiasaan terbarunya itu, kuliah Bee menjadi benar-benar terancam tidak sukses.
Penyakit Bee ini juga menjadi penyakit pacarnya. Bee pun tidak mengerti apa penyakit malasnya itu berasal dari dirinya dan menular ke pacarnya, atau memang sudah sejak lama pacarnya mengidap penyakit malas yang sama seperti Bee.
Kondisi ini memang sebetulnya membuat frustasi pada diri Bee sendiri. Tapi, Bee adalah anak yang tidak suka dilihat suram hidupnya. Bee selalu melebarkan senyumannya kepada orang-orang disekitarnya dan mencoba untuk mengatasi masalahnya sendiri. Bee hanya melihatkan kesuramannya itu kepada pacarnya sebagai orang yang sangat disayangnya, karena Bee tahu bahwa pacarnya tidak akan menjatuhkan dirinya. Setiap hari, rutinitas Bee adalah menemani dengan tulus pacarnya. Bee selalu bangga dengan pacarnya tersebut, karena memang pacarnya adalah orang yang baik. Setiap malam, pacarnya Bee selalu mengantar Bee pulang ke rumah, tidak peduli apa kata tetangga di sekitar Bee, karena dalam pikiran Bee, selama pacarnya senang Bee pun juga turut senang.
Setiap saat Bee selalu meluangkan waktunya untuk contact pacarnya yang paling dicintainya itu. Namun, seketika waktu berjalan, Bee merasa ada yang berubah dari pacarnya itu. Bee merasa sering dilupakan jika dia sudah sampai rumah. Beberapa kali Bee mengajak pacarnya pergi pun, mulai sering dibatalkan karena banyak halangan. Mungkin saat itu memang Bee dan pacarnya sama-sama sedang frustasi kuliah.
Bee berusaha lebih memperhatikan lagi pacarnya itu, membawakan makanan setiap pagi, tidak memghitung uang yang ada didompetnya tersebut masih sisa atau sudah habis. Tetapi, Bee masih terus merasa ada yang berbeda dengan pacarnya itu.
Bulan April, dimana menjadi hari Bee dan pacarnya melewati masa-masa 2 tahun bersama. Bee adalah orang yang senang dengan hal-hal romantis. Namun Bee tidak pernah memaksakan dirinya mendapat hal-hal romantis tersebut dari pacarnya. Hanya bersama pacarnya saja, Bee sudah sangat bahagia. Seiring dengan berjalannya waktu, Bee semakin mencintai pacarnya itu, tapi tetap ada satu pertanyaan dari dalam hati Bee, ada apa dengan pacarnya itu? Entah sejak kapan Bee melihat pacarnya agak berbeda.
Di sisi lain, kuliah Bee semakin memburuk. Banyak mata kuliah yang jatuh berantakan. Bee tahu bahwa semua itu akan semakin menambahkan umurnya untuk tinggal di kampusnya, namun Bee tidak pernah putus asa. Yang paling membuat Bee sedih bukanlah melihat kuliahnya sendiri, namun melihat kuliah pacarnya yang semakin hari juga semakin buruk. Bee ingin sekali membantu pacarnya itu untuk sukses, tapi Bee tidak pernah tahu bagaimana caranya dia membantu pacarnya, karena Bee sendiri adalah seorang yang bernasib lebih buruk dari pacarnya itu dalam dunia kuliah. Bee hanya bisa mensupport pacarnya, dan membantu pacarnya dalam tugas kuliah selama Bee masih sanggup mengerjakannya. Bee berusaha terus semangat, dan mencoba untuk membantu pacarnya yang juga menjadi teman 1 kelompok skripsi Bee.
Bulan April pun lewat begitu saja. Seperti biasa Bee selalu begadang, bahkan sampai tidak tidur malam, dan datang ke kampus dengan wajah yang suram bau bantal. Apa yang ada dipikiran Bee adalah bagaimana dia membantu pacarnya untuk sukses dalam kuliah, menjalani skripsi dengan sebaik-baiknya, hingga sampai pendaftaran semester pendek dibuka, Bee juga tidak mempedulikan jadwalnya, dan lebih mendahulukan pendaftaran semester pendek pacarnya. Awalnya memang Bee bingung, jadwal semester pendeknya tidak sesuai harapan, namun Bee berpikir "Ah, nanti kan bisa mengungsi di kos pacarku dulu sebelum kuliah".
Demikian juga pendaftaran semester depan, yaitu semester 7, Bee mencari jadwal yang sama dengan kelompok skripsinya dimana pacar Bee menjadi salah satu anggotanya.
Waktu terus berjalan. Seperti biasa Bee selalu merasa segar dan bugar walaupun terkadang tidak sesuai dengan kondisi tubuh dan pikirannya. Seperti biasa juga, Bee datang ke kosan pacarnya, membawa makanan dan membangunkan pacarnya yang sedang tidur dengan penuh kasih sayang. Namun, hari itu dia melihat beberapa hal berbeda dari pacarnya. Hari itu pacarnya lebih banyak diam, dan sering sekali memasang wajah kecewa dan tidak senang. Bee berpikir mungkin pacarnya sedang frustasi kuliah saat itu, atau mungkin ada masalah dengan temannya atau keluarganya. Bee mencoba menanyakan semuanya kepada pacarnya itu, ada apa dan kenapa dengan pacaranya itu. Pacarnya tidak menjawab, hanya tersenyum menjawab "Gapapa kok".
Jawaban ini bukan menjadi jawaban yang membuat hati Bee tenang, tetapi menjadi semakin bingung dan gundah. Bee penasaran, dan bertanya terus menerus kepada pacarnya, dan lagi-lagi, jawabannya sama.
Keesokan harinya, Bee bertanya lagi pacarnya dan berkali-kali mendapat jawaban yang sama lagi dari pacarnya. Akhirnya, Bee memutuskan untuk memberikan pacarnya waktu untuk menyegarkan pikiran, tidak menanyakan pertanyaan yang sama, dan mencoba membuat pacar yang disayanginya itu sangat senang hari itu. Namun, sepertinya usaha Bee tidak berjalan dengan mulus.
Malamnya, saat pacarnya mengantarkan Bee pulang, mereka mampir dulu makan ke Hoka Hoka Bento dekat rumah si Bee ini. Seperti biasa, Bee selalu memiliki candaan dan gaya-gaya manja untuk pacarnya, dan hanya pacarnya saja yang tahu. Bee melihat pacarnya masih menunjukkan wajah yang sulit dan tidak mau bicara. Sampai akhirnya pacarnya pun bicara saat mereka sedang menyantap makanan. Jawaban dari pacarnya ini sangat mengguncang hati Bee, dan membuatnya tidak dapat membendung air matanya lagi.
Pacarnya berkata "Kayanya aku jadi kuliah di luar negri, dan aku ga tau hubungan kita gimana nantinya. Mungkin nanti ya kita ga bisa sama-sama lagi, kamu juga ga mau kan nunggu aku tanpa kejelasan sampai tua"
Bee yang menelan makanan dengan tangisan, tidak dapat berkata apa-apa. Bee hanya tersentak kaget karena dia tidak menyangka kalau dirinya harus berpisah dari pacarnya suatu hari nanti.
Bee memang dari awal tahu, bahwa pacarnya mempunyai cita-cita untuk melanjutkan kuliah di luar negri. Namun, Bee berharap walaupun ke luar negri, pacarnya tidak akan meninggalkan dia dan cintanya. Saat mengetahui cita-cita pacarnya itu, Bee hanya meminta untuk ditunangkan saja sebelum pacarnya pergi ke luar negri untuk melanjutkan sekolahnya. Tapi, Bee selalu menerima jawaban "Ya, lihat nanti saja ya" dari pacarnya dengan senyuman yang penuh beban di wajah pacarnya tersebut. Apa yang Bee harapkan tiba-tiba menjadi sirna seketika, saat pacarnya memberikan jawaban tersebut. Saat pulang kerumahnya, Bee hanya bisa menangis, dan sejenak Bee mengingat Tuhan dan berdoa. Saat itu, Bee hanya dipenuhi ketakutan karna dirinya tahu akan kehilangan pacarnya yang sangat disayanginya itu.
Saat itu, Bee melakukan rutinitasnya setelah pulang ke rumah, yaitu bermain game. Dalam keadaan hati yang sangat galau, sedih, dan kecewa, ada seorang teman in-game yang menjadi tempat curhat Bee saat itu. Entah kenapa Bee ingin curhat, dan Bee tidak melihat siapa orang itu, berasal dari mana, dan apa saja latar belakangnya. Saat itu yang Bee butuhkan hanya peluapan emosi dan kesedihannya.
Bee mencurahkan isi hatinya semua kepada temannya itu lewat chat, dan mencari solusi untuk menjawab kesedihannya itu. Saat itu yang ada dalam pikiran Bee adalah memberi tahu semua keadaan yang terjadi pada Bee dan pacarnya kepada orangtua Bee. Saat itu, temannya hanya memberikan pilihan beserta resikonya.
Temannya mendukung solusinya itu selama Bee sanggup menghadapi resiko terburuk yang mungkin terjadi setelah itu. Akhirnya, Bee memutuskan untuk memberitahu mamanya semua hal yang terjadi dalam hubungannya dengan pacarnya yang dicintainya itu. Saat itu, mamanya Bee sangat kaget, apalagi mamanya mengetahui semuanya lewat sms, berhubung Bee sudah sampai di kampus dan belum berani berbicara langsung face to face kepada mamanya. Bee yakin mamanya akan sangat kecewa, tapi seperti biasa, mamanya Bee membalas sms Bee dengan bahasa yang bijak dan menguatkan hati Bee.
Setelah dia sms ke mamanya dan mendapat balasan sms juga dari mamanya, Bee kembali memikirkan apa yang dikatakan temannya semalam. Tentang resiko setelah ini. Ketakutan Bee ini tidak mungkin di-share ke pacarnya, yang saat itu juga dalam kondisi galau. Akhirnya dia sms temannya itu, berharap temannya bisa mendapatkan solusi yang baik. Seketika itu, temannya hanya menelepon dan menyuruhnya untuk sabar dan bersiap untuk resiko yang paling buruk. Bee ketakutan dan menangis saat itu juga, dan Bee sangat menyesal telah melaporkan semuanya kepada orangtuanya, walaupun memang seharusnya orangtua tahu akan semuanya. Bee hanya berharap pacarnya memaafkannya dan tidak meninggalkan dia.
Hari itu berlalu dengan penuh tangisan. Bee melihat kalender dan menghitung hari seperti dirinya besok akan mati. Hari selanjutnya adalah dimana Bee harus bertemu dengan kedua orangtua pacarnya, dimana mamanya Bee juga ikut menemani Bee saat itu. Yang bisa Bee lakukan saat bertemu kedua orangtua dan pacarnya itu adalah menahan air mata. Bee melihat wajah pacarnya yang penuh beban, dan Bee merasa sangat bersalah saat itu kepada pacarnya. Melewati nasihat-nasihat para orangtua, selanjutnya papa pacarnya Bee menyuruh Bee dan anaknya meninggalkan para orangtua sebentar.
Bee dan pacarnya duduk di foodcourt yang berawal dari wajah yang sama-sama disembunyikan. Sampai akhirnya pacarnya mengatakan " Perasaanku sekarang kosong, udah mati rasa sama kamu".
Mendengar perkataan pacarnya itu, hati Bee sangat hancur dan merasa telah dibohongi selama ini. Bee berusaha meyakini pacarnya saat itu, tapi pacarnya menolak mentah-mentah. Pacarnya terus mengatakan hal yang sama, bahwa dirinya tidak ada lagi perasaan dengan Bee, dengan berbagai alasan yang menyakitkan Bee saat itu. Bee yang sejak awal menahan air matanya, akhirnya menangis juga di depan pacarnya. Bee merasa apa yang telah dikorbankannya, dijaganya, dan dipertaruhkannya selama ini hanya berakhir buruk. Bukannya Bee mengharapkan balasan, tapi Bee tidak menyangka bahwa pacaran yang telah dijalaninya 2 tahun itu tidak membuat pacarnya yakin terhadap Bee. Saat itu Bee merasa hanya Bee sajalah yang serius menjalani pacarannya itu.
Setelah pertemuan para orangtua, mama Bee mengajak semuanya untuk makan siang, menciptakan suasana yang hangat untuk memperbaiki ketegangan. Pada saat itu, pacarnya Bee menceritakan hal yang sebetulnya tidak membuat Bee kaget mendengarnya " Waktu aku bilang aku mau pergi ke pangandaran sama orangtuaku, itu sebenarnya aku bohong. Aku pergi sama teman-temanku ke pangandaran waktu itu, tapi aku bilang ke kamu pergi sama orangtuaku.". Saat itu Bee bertanya kenapa harus berbohong untuk masalah seperti itu, dan pacarnya menjawab supaya Bee tidak terlalu khawatir dengan pacarnya yang sedang bersenang-senang dengan teman-temannya itu. Dalam pikiran Bee sempat terlintas, "Kamu mau biar aku ga khawatir, atau kamu khawatir aku bakal ganggu senang-senang kamu sama teman-temanmu itu?"
Ya, tapi Bee tidak mengatakan itu pada pacarnya, dan Bee melupakan pikiran negatifnya itu, dan berusaha percaya kepada pacarnya yang sudah berbohong itu.
Hari itu akhirnya lewat juga. Keesokannya Bee seperti biasa datang ke kosan pacarnya, berusaha menahan air mata namun tidak bisa. Bee datang dan melihat pacarnya sedang tertidur. Saat itu yang ada dalam pikiran Bee adalah memperbaiki hubungan Bee dengan pacarnya menjadi pacaran yang sehat. Tidak lama setelah Bee sampai dan duduk termenung memikirkan semuanya itu, tiba-tiba ponsel milik pacarnya berbunyi, dan Bee cepat-cepat mengambil ponselnya. Ternyata ada sms dari mamanya pacarnya. Tiba-tiba timbul rasa ingin tahu dari Bee untuk melihat isi sms dari mamanya pacarnya itu. Saat itu yang ingin diketahui Bee adalah bagaimana respon perlakuan orangtua pacarnya Bee dengan pacarnya itu.
Bee membaca sms tersebut, dan lagi-lagi Bee diberi kejutan yang luar biasa. Di sms itu, mamanya Bee menuliskan nama perempuan lain, dengan beberapa kalimat yang menyebutkan tentang jalan berdua dengan nama perempuan lain itu. Bee tahu persis, nama perempuan itu adalah nama sahabat pacarnya. Bee menangis dan membangunkan pacarnya. Bee menanyakan maksud sms mamanya pacarnya itu kepada pacarnya.
Dalam kondisi baru bangun tidur, pacarnya menceritakan semuanya. Pacarnya mengatakan "Waktu itu aku ijin ke kamu mau ke PRJ sama orangtuaku, ya itu aku ke PRJ bukan sama ortu tapi sama si **** ini berdua"
Kali ini cerita pacarnya bukan menjadi cerita yang biasa buat Bee. Seketika itu Bee merasa tersentak dan hatinya sangat sakit saat mengetahui pacarnya telah membohongi dia hanya untuk jalan dengan perempuan lain. Bee menangis sekeras-kerasnya, merasa kecewa dan dikhianati cintanya. Bee ingin menghapuskan kata-kata "kamu selingkuh" dari pikirannya, namun tidak bisa. Karena selama Bee berpacaran dengan pacarnya, Bee tidak pernah membohongi pacarnya untuk berjalan bersama pria lain. Memang sebetulnya mungkin ini tidaklah salah, berjalan dengan sahabat sendiri sekalipun berlawanan jenisnya, tapi kenapa harus bohong?
Bee yang terbawa emosi ini, langsung mencari nomor ponsel sahabat pacarnya itu dan sms untuk meminta waktu berbicara baik-baik kepada sahabatnya itu.
Malamnya, Bee membicarakan semuanya kepada sahabat pacarnya itu. Awalnya Bee ingin bertanya saja dan berusaha agar hubungan tetap berjalan baik. Namun, Bee mendapat respon yang kurang mengenakkan hatinya. Dalam chat bersama sahabat pacarnya itu, Bee merasa seolah-olah telah merusak kehidupan pacarnya, mengekang, dan egois. Saat itu, yang Bee lakukan hanya bisa bersabar, karena sekalipun Bee mengeluarkan emosinya, posisi Bee saat itu adalah orang yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Setelah Bee berbicara dengan sahabat pacarnya lewat chat, Bee menelpon pacarnya yang saat itu sedang pulang ke rumahnya. Timbullah hal yang tidak terduga. Bee yang sangat emosi saat itu memberitahukan semua yang dibicarakan kepada sahabat pacarnya itu sejujur-jujurnya. Tapi, karena situasi hubungan memang sudah dipenuhi dengan emosi, meledaklah pertengkaran. Saat itu Bee baru menyadari bahwa apa yang diperbuat olehnya, dari waktu, kasih sayang, usaha untuk pacarnya agar terus semangat merupakan sebuah hal yang mengekang kehidupan pergaulan pacarnya tersebut. Pertengkaran ini membuat semakin suramnya hubungan Bee dengan pacarnya, sampai beberapa hari kemudian, pacarnya meminta putus kepada Bee saat mereka bertemu kembali.
Bee jomblo, tapi bagi Bee, dia bukan salah satu anggota Jojoba (Jomblo Jomblo Bahagia) saat itu. Setiap hari, Bee hanya murung dengan lingkaran mata yang hampir sebesar mata burung hantu. Setiap hari begadang, main game, jam makan tidak teratur karena sering tidak makan, tidak memikirkan lagi apa dirinya sehat atau sakit, dan menjalani hari-hari semester pendeknya di kampus tanpa semangat. Semester pendek berjalan begitu saja, tanpa ada keinginan Bee untuk maju. Bee juga harus bertemu dengan mantannya itu saat membicarakan skripsi, dimana Bee harus menahan air mata setiap kali bertemu dengannya. Bee sudah mencoba mencari kesenangan seperti mengikuti gathering bersama teman-teman gamenya, menghabiskan bersama keluarga dan merubah style/ dandanannya saat itu. Namun tidak ada yang bisa menyembuhkan hati Bee saat itu.
Saat yang penuh kelabilan dan kegalauan itu, teman in-game Bee yang dulu sempat menjadi teman curhatnya, kembali mendengarkan curhatan Bee kembali. Saat itu, Bee dengan penuh keyakinan ingin pensiun dari kehidupannya bermain game, karena Bee merasa itu hanya mengingatkannya kembali pada mantannya yang paling dia sayang itu. Bee berusaha menjual semua item game yang pernah dibelinya dengan rupiah, namun tidak pernah laku, sehingga saat itu Bee hanya bisa frustasi, marah-marah, dan menjadi orang yang mudah tersinggung. Tiba-tiba teman in-game Bee chat dan memintanya agar tidak pensiun dari kehidupan game.
Bee dengan segala kekesalan, kejutekan menanggapi temannya ini, terus menolak untuk tidak pensiun karena Bee sudah tidak menemukan kesenangan dalam bermain game saat dia sudah putus dengan pacarnya.
Teman in-game nya terus membujuk dan sampai akhirnya menemani waktu-waktu sedih dan galau yang dilalui Bee. Waktu terus berjalan, dan segala nasihat teman in-gamenya Bee ini, akhirnya bisa meluluhkan hati Bee perlahan-lahan. Bee bisa tersenyum walaupun tidak sebaik senyumannya sewaktu dengan pacarnya. Hari-hari dilewati dengan penuh sesak, namun saat itu Bee bisa sharing dengan teman in-gamenya itu. Secara tidak langsung, Bee menjadi tergantung pada teman in game-nya itu, karna Bee merasa hanya temannya itu yang mengetahui kesedihan Bee saat ditinggalkan pacarnya.
Singkat kata, Bee menjadi seolah-olah dekat dengan teman in-gamenya itu, dan banyak hal yang mungkin memberikan tamparan bagi pacar/mantannya yang disayang. Namun, Bee tidak pernah bermaksud membalas semua kepahitan tersebut kepada mantannya. Setiap hari, Bee selalu menunggu mantannya untuk kembali kepadanya lagi, sms ke mantannya, berusaha mencari waktu untuk bertemu dengan alasan membahas skripsi. Namun, Bee melihat bahwa mantannya tidak ingin berbalikan lagi dengannya. Bee merasa bahwa perbuatannya untuk menunggu mantannya kembali itu menjadi gangguan bagi kehidupan mantannya. Akhirnya, Bee memutuskan untuk mencoba melupakan mantannya, sekalipun itu sangatlah sakit karena tidak pernah terpikirkan oleh Bee untuk berpisah dengan mantannya itu. Setiap hari Bee hanya bisa berdoa, meminta kekuatan untuk menghadapi kemungkinan yang paling terburuk bagi dirinya. Dalam masa-masa penuh sesak itu, Bee tidak mendapat respon apapun dari mantannya, sehingga dirinya semakin frustasi.
Dalam frustasinya itu, teman in-gamenya Bee mengajak Bee untuk menemuinya di kotanya. Waktu itu Bee merasa itu permintaan yang gila dan tidak mungkin dia lakukan. Namun, karena merasa berhutang budi kepada teman in-gamenya, Bee akhirnya mau datang ke kota dimana teman in-gamenya itu tinggal.
Bee mengajak teman-temannya dari kotanya untuk bersama pergi ke kota dimana teman in-gamenya Bee tinggal dan menunggu disana.
Singkat kata lagi, sampai di kota tersebut, dan banyak memori indah dan menakutkan yang didapatkan Bee dari liburannya di kota teman in-gamenya itu. Bee mendapat memori indah dimana Bee bisa bersenang-senang melupakan kesedihannya seketika saat berada di kota tersebut. Namun, Bee juga menyesali peristiwa yang menakutkan yang sempat terjadi disana, dan berusaha membawa kenangan buruk tersebut sendiri sampai mati. Hingga waktu mengatarkan Bee dan teman-temanya pulang ke kota asal mereka, dengan sejuta ingatan yang baik dan buruk. Setelah liburan selesai, Bee hanya bisa tersenyum melihat mantannya itu. Dalam hati Bee hanya berharap mantannya bahagia. Tiba-tiba saja mantannya memintanya untuk bertemu di salah satu mall, dan disana Bee dan mantannya mengobrol beberapa saat. Muncul dari hati Bee sebuah keinginan untuk kembali bersama dengan mantannya, untuk menjalin hubungan pacaran yang lebih sehat. Tapi, saat itu juga Bee berpikir kembali, mantannya sudah bisa senang lagi walaupun tidak bersama dengan Bee.
Hari berjalan terus dan Bee berusaha untuk tidak berharap apa-apa lagi terhadap mantannya. Memang Bee sangat mencintai mantannya itu, tapi Bee tidak mau menyusahkannya lagi dengan hal-hal yang mengekang hidup mantannya. Dalam menjalani hari-harinya, mantannya kembali mengajak Bee untuk pergi lagi setelah pulang kuliah. Kali ini mengajak Bee untuk nonton di bioskop. Bee sangat senang, dan saat itu Bee sempat berpikir lagi untuk meminta balikan kepada mantannya, tapi Bee takut kalau-kalau nanti ditolak dan justru penolakan itu akan menambah sakit hati. Sampai akhirnya, suatu hari yang tidak terduga dan merupakan hari terindah bagi Bee, mantannya meminta balikan/ pacaran lagi dengan Bee. Saat itu Bee senang, dan Bee memberitahukan kepada beberapa temannya peristiwa menyenangkan itu. Namun, Bee teringat akan peristiwa menakutkan yang terjadi saat liburan itu. Bee hanya berpikir, bagaimana caranya Bee mengatakan sebenarnya pada pacarnya yang sangat disayanginya itu. Saat itu juga teman in-gamenya Bee menjauh total dari kehidupan Bee, tanpa mengingat peristiwa menakutkan itu. Bee berpikir, untuk memilih dan meyakini pilihannya, yaitu pacarnya. Bee berharap pacarnya yang dia sayangi, benar-benar ingin memperbaiki hubungan pacaran mereka yang sempat hilang. Bee berusaha menyimpan semua kekelamannya sendiri dan kembali membuat pacarnya bahagia seperti dulu.
Dalam masa pacaran, Bee mulai memberikan pacarnya banyak peluang untuk bersosialisasi dengan keluarga dan teman-temannya. Bee tidak mau menjadi orang yang mengekang hidup pacarnya sebagaimana yang telah Bee lakukan dahulu sebelum mereka putus. Bee juga berusaha untuk mengurangi waktu untuk bermanja-manja dengan pacarnya, karena Bee tidak ingin hubungan pacar dengan teman-temanya pacarnya menjadi tidak baik karena tidak adanya waktu bersama teman. Setiap harinya, Bee selalu ingin membuat pacarnya bahagia. Walaupun pacarnya tidak lagi tinggal di kos dan waktu mereka bertemu sangatlah sempit, Bee tetap mencoba untuk membuat pacarnya yakin bahwa dirinya bisa menjadi calon istri yang baik. Bee berusaha untuk meninggalkan dunia gamenya, dan berusaha menjadi orang yang dewasa menjalani hidup, walau harus perlahan-lahan. Pacarnya juga mengatakan bahwa dia akan berusaha meyakinkan orangtua dan dirinya sendiri untuk memilih Bee sebagai calon istrinya. Mendengar keyakinan pacarnya itu, Bee bersemangat untuk merubah kehidupannya yang sempat hilang dan rusak. Bee ingin membahagiakan pacarnya dengan selalu berpenampilan cantik didepan pacarnya, memberikan kejutan-kejutan seperti hadiah dengan harapan bisa menjadi kenang-kenangan semasa mereka pacaran saat mereka sudah menikah nanti.
Seiring perjalanan waktu, Bee dan pacarnya kembali menjadi pasangan yang romantis. Bee melihat pacarnya lebih memperhatikan kuliah dibanding dulu, dan itu membuat hati Bee sangat senang. Bee hanya ingin melihat pacarnya sukses. Namun, saat di hari-hari yang penuh kehangatan itu, Bee melihat ada sesuatu yang membuat pacarnya sedikit terbeban. Ada beberapa saat dimana wajah pacarnya terlihat susah, sedih, dan penuh beban. Melihat itu Bee ingin sekali mencari tahu apa yang terjadi dengan pacarnya, dan Bee juga ingin menyembuhkan perasaan pacarnya jika terluka. Hari-hari yang manis pun berjalan diikuti dengan hal-hal yang tidak terduga. Bee melihat pacarnya sering kesal, dan marah secara tiba-tiba, dan Bee berusaha menemaninya dan menyembuhkan rasa kesal pacarnya itu. Sampai suatu hari, pacarnya berkata "Apa harus kita menikah kalau aku jadi pergi ke luar negri?". Saat itu Bee hanya menjawab, cukup tunangan dulu saja jika memang menikah itu berat. Pacarnya menjawab dengan keraguan bahwa dia tidak tahu kedepannya harus bagaimana, dan sempat dikatakan juga kalau dia tidak yakin Bee bisa berubah, karena saat ini dia belum melihat Bee berubah. Saat itu Bee hanya bisa terdiam dengan menahan air mata. Ya, memang perubahan belum terlihat dari dalam diri Bee, tapi Bee sudah berusaha berubah seperti yang pacarnya inginkan. Bee butuh waktu untuk berubah dan dewasa. Kata-kata keraguan itu beberapa kali diucapkan oleh pacarnya. Hal ini membuat Bee frustasi dan ingin share untuk mencari solusi ke temannya. Bee mencurahkan isi hati ke 2 orang temannya, dan berharap mendapat solusi yang baik untuk hubungan pacarannya itu.
Terkadang Bee juga melampiaskan emosinya, dimana pacarnya itu sering curiga dan cemburu terhadapnya, padahal saat itu Bee benar-benar yakin kepada pacarnya. Seketika juga pacarnya menyebut nama teman in-gamenya yang saat itu sedang dalam proses dilupakan oleh Bee. Dan, hal yang paling membuat Bee ingin mencari solusi adalah menemukan jalan keluar untuk meyakinkan pacarnya bahwa dirinya siap menjadi seorang istri yang baik di masa depan nanti.
Setiap ada masalah, entah itu marah yang datang tiba-tiba ataupun keraguan dari pacarnya, Bee tidak pernah menunjukan kesedihan dan emosinya kepada pacarnya. Bee hanya sharing dengan 2 orang temannya itu, agar cepat melupakan masalah yang terjadi. Namun, lagi-lagi nama teman in-gamenya Bee yang telah hilang itu menjadi bahan obrolan panas saat Bee bersama dengan pacarnya. Entah apa yang dipikirkan Bee saat itu, entah kegilaan apa yang datang menghampiri Bee, akhirnya Bee menjadi mengenang masa-masa saat dirinya mencurahkan hati dan masalahnya kepada teman in-gamenya yang hilang itu. Setiap masalah yang sama yang terjadi, secara tiba-tiba saja muncul kegilaan dalam pikiran Bee untuk mengingat semua peristiwa menakutkan yang terjadi di kota kelam itu, dan hal itu membuat Bee merasa bersalah, berdosa, dan membohongi dirinya sendiri karena telah menganggap peristiwa itu telah hilang dari hidupnya. Akhirnya, Bee mengatakannya kepada salah satu teman curhatnya tentang semua yang terjadi. Bee mendapat nasihat dari temannya dan tetap saja itu membuat Bee tidak pernah tenang, selalu ketakutan dalam menjalani hidup.
Tiba saatnya hari Natal. Bee mengakui semua kesalahan dan meminta kesempatan kepada Tuhan untuk memperbaiki hidupnya. Bee merasa selama ini dirinya kurang memahami pacarnya. Mungkin memang benar, Bee belum berubah, dan mungkin juga benar kalau Bee tidak pantas mendapat keyakinan dari pacarnya, melihat kehidupan sehari-hari Bee yang belum sesuai dengan harapan pacarnya. Lewat Natal itu, Bee ingin sekali menyatakan rasa sayangnya dan berjanji untuk tidak mengulangi dampak frustasinya seperti kemarin itu.
Namun, semua sudah terlambat. Baru saja Bee mendengar dengan hati yang senang, bahwa pacarnya akan datang ke rumahnya setelah pulang liburan, hari itu juga pacarnya mengetahui sendiri apa yang disembunyikan Bee selama mereka balikan/pacaran lagi. Saat itu Bee hanya bisa berdoa dengan segala ketakutan seperti yang dia rasakan saat hari-hari sebelum putus. Entah apa yang harus Bee katakan lagi, saat itu yang ada hanyalah penyesalan dalam hati, tanpa ada keinginan untuk membela diri, karena memang sebenarnya tidak ada yang harus dibela lagi. Bee mengatakan semuanya dengan jujur, baik peristiwa yang menakutkan itu sampai kegilaan yang terjadi dalam waktu yang singkat ketika curhat dengan 2 orang temannya. Saat itu, pacarnya tidak lagi percaya, karena baginya tidak ada lagi jaminan untuk mempercayai Bee.
Yaa, memang tidak ada lagi jaminan. Perkataan jujur yang Bee katakan semuanya dianggap rekayasa dan hanya ada penyesalan dalam hati Bee. Bee merasa dirinya telah menyakiti orang yang paling dia cintai, padahal Bee sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan pacarnya itu.
Akhir cerita, mereka putus. Yang hanya bisa Bee lakukan adalah berdoa agar Tuhan memberikan kesempatan bagi Bee untuk bersama pacarnya kembali dan membuka pintu maaf pacarnya.
Mungkin ini bukan akhir cerita bagi mereka, namun apa yang telah saya ceritakan tentang teman saya si Bee, bisa menjadi masukan bagi hidup kita, terutama dalam mencintai pasangan kita. Tahun 2012 merupakan buku besar yang masih kosong dalam hidup kita. Hanya kita yang akan menulis buku kosong itu dengan segala pengalaman, kebaikan, dosa, dan kesempatan yang selalu berjalan setiap harinya. Jika masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di tahun 2012 ini, perbaikilah dan tetaplah menjadikan Tuhan sebagai guru yang membantumu menuliskan buku kosong itu. Namun, jika ada hal yang mungkin telah habis kesempatannya, berdoa dan mintalah kekuatan untuk memperbaharui hidup kita. Karena di dalam Tuhan, selalu terbuka pintu maaf untuk kita yang mau bertobat, dan selalu diberikannya kesempatan untuk kita memperbaiki atau memperbaharui hidup yang pernah kelam.
Selamat Tahun Baru 2012, semoga di tahun ini, kita semua bisa menjadi manusia yang baru , lebih bijak, bisa memaafkan, dan bertekun kepadaNya.
(+): Cerita ini sudah mendapatkan izin dari Bee sendiri untuk di-share dalam blog saya. Thanks :)