Hari ini tanggal 7 Februari 2013, saya mempunyai waktu kosong panjang di rumah...
Saya pergi keluar rumah sebentar bersama adik saya untuk mencari kegiatan yang positif, dimana pulangnya kita naik angkutan umum karena tidak ada ojek yang secara kebetulan tidak satupun bergentayangan di jalanan dan pangkalnya.
Angkutan umum yang berjalan seperti yang saya lihat biasanya di sekitar kampus, dimana seperti pembalap F1, potong zigzag, belok dadakan, rem skakmat, dan semangat saling kejar mengejar rivalnya di area balapan jalan raya kampus. Hanya macet di jalan raya saja yang dapat mengendalikan obsesi mereka untuk menjadi pembalap profesional tingkat dunia.
Oke, selanjutnya setelah pembalap F1 saling merebutkan posisi terbaik tingkat dunia, maka tidak lama kemudian muncullah kumpulan pelajar kritis yang sepertinya bercita-cita menjadi detektif di masa depan nanti.
Memang kenapa mbak'e??
Cerita berawal dari 3 pelajar wanita yang sepertinya baru saja pulang sekolah, dan berada dalam 1 angkutan umum bersama saya dan adik saya. Sepanjang jalan, entah bagaimana ceritanya padahal saya tidak memperhatikan mereka bicara, namun lama-lama saya mengerti topik pembicaraan mereka.
Kritis dan fantastis pastinya saudara-saudara..
Memang cerita apaan mbak???
Inilah yang mau saya bahas pada topik kita tentang "We proud our BADNESS".
Bahasa Inggris saya memang tergolong kelas barbar dan disini bukan saya tidak cinta dengan bahasa Indonesia, namun perlu diketahui tujuan saya menulis blog berjudul bahasa asing dengan tujuan suatu hari nanti jika ada orang asing yang menemukan judul blog ini, maka mereka yang penasaran atau bisa berbahasa Indonesia akan melihat sharing dari saya.
Oh niat lo mau eksis mbak???
Ohh jelas keinginan populer itu pasti ada kok, tetapi tujuan utama saya bukan itu kok, tenang saja hahaaha..
Tujuannya supaya saya bisa semakin terampil dalam menulis dan berkata-kata saja.
Next time kita bahas soal mengapa saya suka judul dengan bahasa asing :3
Oke lanjut ceritanya..
Sebetulnya, apa sih yang mereka ceritakan di dalam angkutan umum?
Ya beginilah ceritanya..
Awalnya saya tidak memperhatikan, walau memang saya mendengar sedikit mereka sedang berbincang-bincang dengan serunya, hingga pada saat macet melanda kota Jakarta yang indah ini, saya mulai memperhatikan apa bahasan mereka sampai begitu serunya.
Salah satu dari mereka berbicara soal teman sekolahnya sambil membawa suku, bukan SARA, kira-kira seperti ini bahasannya "Iya sih, emang kalo suku ************** punya kebiasaan gitu makanya dia jadi gitu orangnya".
Setelah saya mendengar lebih lanjut, ternyata mereka sedang kritis membahas teman sekolahnya yang tidak mendapat perhatian dari orang tuanya sehingga membuat temannya itu memiliki sikap aneh dan kasar saat berada di lingkungan sekolah.
Menurut saya, namanya anak-anak ABG membahas tentang teman sekolah dan bergosip ria itu suatu hal yang sangat biasa, karena memang saat itulah dimana umur kita menerima banyak panutan, keingintahuan, dan perasaan ingin diakui oleh masyarakat.
Tetapi, semakin didengar diskusi mereka, semakin miris sepertinya.
Salah satu dari mereka mulai membahas tentang kesamaan temannya itu dengan keluarganya, dimana dia dengan suara keras dan lantang berkata "bapak gue juga gitu tuh kawin lagi dia".
Wah, apa saya perlu berkata "luar biasa" untuk kamu dek???
Herannya, dia membahas tentang kejelekan bapak kandungnya dengan tertawa lebar dan terlihat perasaan tidak bersalah, entah senang atau terlalu dendam. Yahhhh... whatever~
Dia berkata lagi "gue sih ga pernah komplen bapak gue gitu, secara kan gue masih butuh duitnya, ya suka-suka dia aja, ntar kalo ga dibolehin kawin terus di stroke, kan gue gabisa lanjutin sekolah lagi"
Tidak lama, dia berkata lagi "gue kalo uda selesai sekolah masa bodo sama dia, biar mampus aja tuh bapak gue"
Astagaaaa~ neng ini di angkot neng, inget tempat neng tempat umum //,\\
Akhirnya setelah salah satu mereka bicara soal keburukan bapak kandungnya, mulailah teman lainnya berbicara, kira-kira beginilah bahasannya:
"Ah emak gue juga udah pisah sama bapak gue. Yaudah gue sih santai emang gue butuh apa duit si tua bangka itu? Masih ada kok emak gue"
Dan yang satunya menanggapi "untung ya di keluarga gue aman-aman aja"
Hingga tiba saatnya, mereka pun turun dari angkutan umum dengan menutup rapat pleno mereka sambil berkata "Ternyata di kelas kita banyak yah yang ga jelas gini keluarganya"
Saat mereka turun angkutan, yang saya pikirkan cuma satu hal "Mengapa mereka begitu bangganya berbicara di depan umum tentang keburukan keluarga dan orangtua mereka?"
Masalah bukanlah hal yang harus dibanggakan dan diinfokan ke semua orang yang tidak mengenal kita.
Masalah adalah suatu hal yang dimiliki masing-masing manusia, dan manusia diharapkan bisa mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Memang ada bagusnya kita melakukan sharing, namun perlu diketahui, yang namanya sharing itu hanyalah bisa dilakukan terhadap orang-orang tertentu seperti orang terdekat kita, psikolog, atau mereka yang terbiasa dipercaya menjadi pendengar curahan hati.
Jika ada masalah yang bisa dibanggakan dengan alasan dengan masalah itu kita mendapat suatu hal positif, mungkin tidak ada salahnya untuk berbangga dan bercerita kepada lingkungan umum.
Bagaimana jika masalah tersebut hanya dapat membuat orang lain untuk merespon negatif atau rasa kasihan?
Apalagi masalah keluarga yang menurut saya bukanlah hal yang tepat untuk dibicarakan di lingkungan umum atau media sosial.
Artis/aktor kok boleh kak ngobrolin soal keluarganya?
Mereka adalah public figure dimana mereka akan selalu disorot oleh media massa baik kebaikan dan keburukannya sekalipun mereka merahasiakan semuanya.
Sedikit kutipan yang baru-baru ini saya temukan di media sosial seperti "orang frontal" dan "flamer" atau apapun itu namanya.
Terkadang, di usia yang sedang mencari banyak sekali pengalaman dan pelajaran hidup, akan sulit bagi kita untuk menempatkan diri dengan tepat dimana kita harus bersuara atau mendengar.
Itulah yang membuat Tuhan kita memberikan 1 mulut dan 2 telinga.
Lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara, bukan berarti kita hanya bisa berdiam diri tanpa alasan sambil berjongkok di pojokan dengan efek-efek suram seperti dalam anime.
Ada banyak hal yang penting kita bicarakan, namun ada banyak hal pula yang sama sekali tidak penting untuk kita frontalkan, karena dunia ini tidak membutuhkan diskusi yang hanya berputar di tempat tanpa penyelesaian masalah. Dunia ini membutuhkan solusi dan penyelesaian suatu debat dan masalah.
Jangan pernah membanggakan apa yang buruk dari dirimu atau orang-orang terdekatmu. Apapun alasannya baik itu untuk suatu pembalasan dendam, pengejekan, keputusasaan yang tidak berujung, atau belum adanya solusi untuk hal buruk tersebut, tidaklah baik untuk membawanya menjadi sesuatu yang membuat kita tertawa dan bangga.
Umur memanglah salah satu faktor untuk melihat kita bertumbuh dewasa, namun hanya secara fisik saja.
Umur tidak pernah memastikan apakah watak dan sikap seseorang akan dipastikan dewasa seperti perubahan pada fisiknya.
Biarlah kita menjadi orang yang dewasa secara umur dan perilaku, dimana kita dapat membedakan apa yang harus kita banggakan dan pikirkan, apa yang harus kita jaga dan beritahukan, apa yang harus kita frontalkan dan perhatikan/dengarkan.
Semoga share dari saya hari ini berguna buat pembaca. Jika ada kata atau kalimat yang menyinggung, tidak berbobot, dan salah dalam penulisan baik sengaja maupun tidak, saya mohon maaf.
Terimakasih. GBU :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar