Minggu, 03 Februari 2013

Your angry can make your world cries

Hari ini tepat dengan tanggal 3 Februari 2013, tepat pada pukul 23.30 saya menulis blog ini.
Hari yang biasa-biasa saja, dan spesial seperti hari-hari biasanya.
Spesial gimana kak?
Hari adalah waktu yang diberikan Tuhan secara spesial untuk kita kan?
Topik hari ini bukan membahas tentang hari, spesial, atau bulan Februari, atau pukul 23.30
Sesuai judulnya saja "Your angry can make your world cries", kemarahanmu dapat membuat duniamu menangis.
Well, hari ini adalah hari yang super fantastis buat saya untuk urusan atur napas atur emosi.
Pagi sampai malam, tidak ada emosi yang terlewat sejengkal pun, dan puncak acara dimana sore hari yang cukup letih, penuh pengorbanan, dan lagi-lagi kesabaran menjadi bahan ujian nasional.

Tidak hari ini saja sebetulnya...

Kemarin secara kebetulan atau memang takdir, dan kebetulan juga saya tidak terlalu percaya akan adanya takdir, dimana saya melihat feed facebook yang banyak memposting segala emosi manusia.
Saat itu secara kebetulan juga saya sedang sibuk bermain santai game facebook tanam menanam, untuk refreshing karena terlalu banyak membaca buku-buku sakti demi bekal di masa depan.
Melihat feed facebook yang secara bergantian tentang masing-masing emosi manusia, saya hanya dapat berkata "wonderful day" dengan senyuman sinis dan pikiran yang bombastis "facebook bukan diary masbro, emang lo ga malu apa masalah lo diliat publik? atau menurut lo bisa eksis kalo marah-marah ga karuan di facebook? atau lo butuh dukungan? atau lo emang ga pernah punya dukungan? atau lo minta belas kasihan para pemirsa seperti layaknya reality show? kenapa lo ga ikut reality show aja daripada malu-maluin diri lo di facebook?"
Wah pikiran jahat memang banyak saat melihat postingan penuh emosi di facebook, dan namanya manusia pasti suka lepas kendali seperti saya dalam hal berpikir demikian, dan para facebooker yang tidak bosan-bosannya melampiaskan emosi bombastisnya ke dalam status facebook.
So..
Kalau sudah emosi, apakah selamanya mau terus begitu?
Atau dengan melampiaskan segala emosi hari ini untuk bekal di hari esok dan masa depan seperti dendam sampai mati, pertengkaran sampai tumpah darah, atau permusuhan sampai beranak cucu?
Ada banyak hal yang bisa dimaklumi dari sikap manusia yang sedang emosi, namum terkadang emosi itu membutakan mata kita untuk berpikir realistis.
Emosi yang membara akan mebuat fantasi negatif pada pikiran kita sendiri dimana tubuh dan jiwa kita bukanlah dikendalikan oleh diri kita, namun dikendalikan oleh hawa nafsu.
Hawa nafsu kak? Emang mau perkosa orang?
Hawa nafsu yang saya maksud adalah emosi itu sendiri. Emosi membutakan mata luar dan mata hati kita. Emosi juga menghentikan kita untuk berpikir mencari solusi, dan memberikan jalan ke arah negatif seperti dendam, permusuhan, iri hati, bahkan fatalnya ada yang sampai bisa melakukan pembunuhan.

Marilah kita belajar untuk mencari antisipasi dalam menangani emosi..
Bagaimana caranya?
Mungkin secara medis atau umum, dimana kita harus menarik nafas panjang, duduk tenang, mencari tempat tenang tanpa hiruk pikuk, atau bahkan ada yang memakan coklat, dimana coklat menjadi makanan yang melegakan saat sedang kacau balau.
Cara yang seperti saya sebutkan tadi itu memang benar, dan terbukti sekali kebenarannya dengan melihat kehidupan sehari-hari saja.
Tetapi, apakah kita benar-benar menghentikan efek samping emosi tersebut, atau hanya menenangkannya sementara saja?
Sebut saja namanya dendam. Memang sulit untuk membahas kata dendam ini, dibilang dosa ya dosa, namun masih banyak orang yang tidak perduli tentang dosa untuk urusan yang disebut dendam.

Sedikit kisah yang akan saya share hari ini, dimana saya kecewa dan marah besar karena merasa tidak direspeki usaha saya untuk menghadiri acara kumpul-kumpul bersama.
Emosi yang berlebihan membuat saya berpikir negatif, sehingga saya sulit memaafkan orang lain untuk beberapa jam sebelum saya menulis blog ini.
Emosi ini membuat saya letih secara lahir dan batin, ditambah lagi dengan jalanan macet di Jakarta dan cuaca yang sebentar panas sebentar lembab, sehingga seperti menghadapi neraka di depan mata, atau lokasi pembakaran mayat dimana kita bisa sepuasnya membakar mayat itu sampai habis menjadi abu.
Saat teduh..
Itulah yang saya lakukan untuk waktu yang sempit dimana terlalu banyak waktu untuk mengikuti semangat si emosi ini. Saat teduh dalam kepercayaan saya, adalah dimana kita meneduhkan hati dan pikiran kita secara total, dan mengarahkan seluruh jiwa dan raga kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Saat teduh dapat membuat kita lebih terkendali karena adanya iman, dan melepaskan perlahan hawa nafsu dan emosi kita.
Ada baiknya jika ini dipraktekkan kepada kalian yang saat ini mungkin belum bisa mengendalikan emosi, atau masih dendam terhadap sesuatu hanya karena urusan sepele atau berat.

Bagi yang urusannya sepele seperti bertengkar dengan orang lain karena urusan cinta (dalam arti hanya mencari titik permusuhan bukan solusi), atau sakit hati karena candaan dan guyonan, atau marah karena merasa tidak direspeki, atau lainnya dalam arti sepele dimana urusan itu hanya menyakiti tubuh kalian jika terus emosi tanpa adanya keuntungan apapun, lebih baik lakukanlah saat teduh ini.
Tidak berbicara soal agama, ras ataupun lainnya, saat teduh ini bisa digunakan oleh semua orang, semua agama, dan semua kepercayaan, dengan menujukan jiwa raga kepada Tuhan yang kita percayai masing-masing.
Pikirkanlah tentang betapa sakitnya tubuh dan jiwamu, betapa perihnya duniamu sehingga dia hanya dapat menangis karena siksaan emosimu sendiri yang cepat lambat menelan kesadaran dan jiwamu.
Jika memang tidak ada untungnya melampiaskan emosi yang berlebihan, mengapa kita mau bersusah payah dan berletih penuh duka untuk mengikuti emosi kita?
Jika memang tidak ada solusi dengan cara mengeluarkan emosi berlebihan, mengapa kita rela mengorbankan diri kita untuk mengikuti emosi kita?

Bagi yang urusannya berat, seperti ada keluarga yang disakiti, dibunuh, atau sikap yang tidak berperi kemanusiaan dan diluar norma masyarakat, marilah kita belajar untuk memaafkan.
"Eh gampang bener lo bilang memaafkan secara lo cuma penulis omong kosong yang ga pernah ngerasain penderitaan sekeras itu kan?"
Yaa, saya memang seorang penulis saja di blog ini, dan saya pun mungkin tidak mengerti sesulit apa kehidupan kalian untuk mengatasi dendam dan emosi itu.
Tetapi disini saya ingin memberikan masukan, yang siapa tahu bisa membantu, dan jika tidak, anggaplah saja ini sebagai tulisan omong kosong, sehingga maafkan saya yang hanya bisa menulis saja.
Memaafkan adalah suatu sikap yang sulit dan paling sulit untuk dilakukan, namun mudah untuk dikatakan.
Setiap orang bisa berkata "maafkan saya" atau "saya maafkan", padahal belum tentu isi hati berucap maaf, atau memaafkan orang lain.
Untuk topik memaafkan, mohon maaf tidak saya bahas disini, karena sudah saya posting di awal blog ini saya buat.
Boleh cekidot :)
http://rinadventchan.blogspot.com/2011/12/about-forgiveness-tentang-mengampuni.html

Buat para aktivis dunia maya baik para facebookers, tweet, bloggers, gamers, dan lainnya..
Ingat bahwa dunia maya adalah majalah publik yang setiap hari diupdate untuk dilihat oleh mata masyarakat luas.
Ada baiknya jika emosi dan amarah itu tidak terlalu sering dilampiaskan ke dalam dunia maya, apalagi jika karena suatu masalah yang hanya dilihat sepihak atau belum jelas titik benar dan salahnya.
Terkadang postingan itu bukanlah memberikan kita suatu dukungan atau saran manis dari ketikan para pemirsa yang membaca.
Ada pro, ada kontra. Saat kontra berbicara, maka postingan kalian bisa saja menjadi ajang ribut sedunia atau cikal bakal permusuhan dimana yang tidak menyukai anda akan berbicara secara blak-blakan atau langsung membawa anda ke pihak yang berwajib.
Kita boleh bicara soal kebenaran, namun apa yang kita anggap benar, belum tentu semua orang merasa pendapat itu benar. Sekalipun memang itu "benar", belum tentu semua orang mendukung, bahkan malah dapat menjadi senjata makan tuan bagi diri kita masing-masing.

Biarlah emosi kita berbicara sesaat saja, bukan menjadi vokal utama dalam hidup kita.
Segala sesuatu yang mengalir tenang akan jauh lebih baik, daripada sesuatu yang tertumpah berlebihan sehingga menimbulkan bendungan atau banjir permusuhan.

Sekian tulisan dari saya. Terimakasih bagi pembaca yang sudah rela meluangkan waktu untuk membaca blog saya, dan mohon maaf apabila ada kata-kata, kalimat yang mengejek atau tidak pantas atau membuat sakit hati, karena ketidak sengajaan penulis.
Tentunya saya menerima kritik dan saran dari kalian semua. GBU :)

Masukan yang membangun dari Ryan Hutomo
Saat kita susah dan terpuruk, kita sering bertanya "kenapa harus kita yang terpuruk?"
Namun saat kita senang, pernahkan kita bertanya "kenapa harus kita yang senang?"

*Kadang, emosi dan amarah membuat kita merasa puas dan senang, serasa membalaskan dendam dan memusnahkan musuh-musuh kita. Namun, apakah kita pernah berpikir mengapa kita senang dengan hal yang   menyulitkan orang lain? Sedangkan saat kita terpuruk, kita hanya dapat bertanya, "kenapa harus saya?" dan "kenapa harus mereka yang senang?" atau "kenapa tidak ada yang mengerti saya?"
Sesekali marilah kita berpikir tentang diri kita jika berada di posisi orang yang menjadi pelampiasan emosi kita. "Jika saya jadi dia, apakah saya akan senang? Apakah saya akan terima keadaan? Ataukah memang saya hanya mental yang lemah hanya bisa bermulut kejam namun tidak tahan banting ketika pembalasan itu datang?"

2 komentar: