Kamis, 07 Februari 2013

We proud our BADNESS

Hari ini tanggal 7 Februari 2013, saya mempunyai waktu kosong panjang di rumah...
Saya pergi keluar rumah sebentar bersama adik saya untuk mencari kegiatan yang positif, dimana pulangnya kita naik angkutan umum karena tidak ada ojek yang secara kebetulan tidak satupun bergentayangan di jalanan dan pangkalnya.
Angkutan umum yang berjalan seperti yang saya lihat biasanya di sekitar kampus, dimana seperti pembalap F1, potong zigzag, belok dadakan, rem skakmat, dan semangat saling kejar mengejar rivalnya di area balapan jalan raya kampus. Hanya macet di jalan raya saja yang dapat mengendalikan obsesi mereka untuk menjadi pembalap profesional tingkat dunia.
Oke, selanjutnya setelah pembalap F1 saling merebutkan posisi terbaik tingkat dunia, maka tidak lama kemudian muncullah kumpulan pelajar kritis yang sepertinya bercita-cita menjadi detektif di masa depan nanti.
Memang kenapa mbak'e??
Cerita berawal dari 3 pelajar wanita yang sepertinya baru saja pulang sekolah, dan berada dalam 1 angkutan umum bersama saya dan adik saya. Sepanjang jalan, entah bagaimana ceritanya padahal saya tidak memperhatikan mereka bicara, namun lama-lama saya mengerti topik pembicaraan mereka.
Kritis dan fantastis pastinya saudara-saudara..

Memang cerita apaan mbak???
Inilah yang mau saya bahas pada topik kita tentang "We proud our BADNESS".
Bahasa Inggris saya memang tergolong kelas barbar dan disini bukan saya tidak cinta dengan bahasa Indonesia, namun perlu diketahui tujuan saya menulis blog berjudul bahasa asing dengan tujuan suatu hari nanti jika ada orang asing yang menemukan judul blog ini, maka mereka yang penasaran atau bisa berbahasa Indonesia akan melihat sharing dari saya.
Oh niat lo mau eksis mbak???
Ohh jelas keinginan populer itu pasti ada kok, tetapi tujuan utama saya bukan itu kok, tenang saja hahaaha..
Tujuannya supaya saya bisa semakin terampil dalam menulis dan berkata-kata saja.
Next time kita bahas soal mengapa saya suka judul dengan bahasa asing :3

Oke lanjut ceritanya..
Sebetulnya, apa sih yang mereka ceritakan di dalam angkutan umum?
Ya beginilah ceritanya..
Awalnya saya tidak memperhatikan, walau memang saya mendengar sedikit mereka sedang berbincang-bincang dengan serunya, hingga pada saat macet melanda kota Jakarta yang indah ini, saya mulai memperhatikan apa bahasan mereka sampai begitu serunya.
Salah satu dari mereka berbicara soal teman sekolahnya sambil membawa suku, bukan SARA, kira-kira seperti ini bahasannya "Iya sih, emang kalo suku ************** punya kebiasaan gitu makanya dia jadi gitu orangnya".
Setelah saya mendengar lebih lanjut, ternyata mereka sedang kritis membahas teman sekolahnya yang tidak mendapat perhatian dari  orang tuanya sehingga membuat temannya itu memiliki sikap aneh dan kasar saat berada di lingkungan sekolah.
Menurut saya, namanya anak-anak ABG membahas tentang teman sekolah dan bergosip ria itu suatu hal yang sangat biasa, karena memang saat itulah dimana umur kita menerima banyak panutan, keingintahuan, dan perasaan ingin diakui oleh masyarakat.
Tetapi, semakin didengar diskusi mereka, semakin miris sepertinya.
Salah satu dari mereka mulai membahas tentang kesamaan temannya itu dengan keluarganya, dimana dia dengan suara keras dan lantang berkata "bapak gue juga gitu tuh kawin lagi dia".
Wah, apa saya perlu berkata "luar biasa" untuk kamu dek???
Herannya, dia membahas tentang kejelekan bapak kandungnya dengan tertawa lebar dan terlihat perasaan tidak bersalah, entah senang atau terlalu dendam. Yahhhh... whatever~
Dia berkata lagi "gue sih ga pernah komplen bapak gue gitu, secara kan gue masih butuh duitnya, ya suka-suka dia aja, ntar kalo ga dibolehin kawin terus di stroke, kan gue gabisa lanjutin sekolah lagi"
Tidak lama, dia berkata lagi "gue kalo uda selesai sekolah masa bodo sama dia, biar mampus aja tuh bapak gue"
Astagaaaa~ neng ini di angkot neng, inget tempat neng tempat umum //,\\
Akhirnya setelah salah satu mereka bicara soal keburukan bapak kandungnya, mulailah teman lainnya berbicara, kira-kira beginilah bahasannya:
"Ah emak gue juga udah pisah sama bapak gue. Yaudah gue sih santai emang gue butuh apa duit si tua bangka itu? Masih ada kok emak gue"
Dan yang satunya menanggapi "untung ya di keluarga gue aman-aman aja"
Hingga tiba saatnya, mereka pun turun dari angkutan umum dengan menutup rapat pleno mereka sambil berkata "Ternyata di kelas kita banyak yah yang ga jelas gini keluarganya"

Saat mereka turun angkutan, yang saya pikirkan cuma satu hal "Mengapa mereka begitu bangganya berbicara di depan umum tentang keburukan keluarga dan orangtua mereka?"
Masalah bukanlah hal yang harus dibanggakan dan diinfokan ke semua orang yang tidak mengenal kita.
Masalah adalah suatu hal yang dimiliki masing-masing manusia, dan manusia diharapkan bisa mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Memang ada bagusnya kita melakukan sharing, namun perlu diketahui, yang namanya sharing itu hanyalah bisa dilakukan terhadap orang-orang tertentu seperti orang terdekat kita, psikolog, atau mereka yang terbiasa dipercaya menjadi pendengar curahan hati.
Jika ada masalah yang bisa dibanggakan dengan alasan dengan masalah itu kita mendapat suatu hal positif, mungkin tidak ada salahnya untuk berbangga dan bercerita kepada lingkungan umum.
Bagaimana jika masalah tersebut hanya dapat membuat orang lain untuk merespon negatif atau rasa kasihan?
Apalagi masalah keluarga yang menurut saya bukanlah hal yang tepat untuk dibicarakan di lingkungan umum atau media sosial.

Artis/aktor kok boleh kak ngobrolin soal keluarganya?
Mereka adalah public figure dimana mereka akan selalu disorot oleh media massa baik kebaikan dan keburukannya sekalipun mereka merahasiakan semuanya.
Sedikit kutipan yang baru-baru ini saya temukan di media sosial seperti "orang frontal" dan "flamer" atau apapun itu namanya.
Terkadang, di usia yang sedang mencari banyak sekali pengalaman dan pelajaran hidup, akan sulit bagi kita untuk menempatkan diri dengan tepat dimana kita harus bersuara atau mendengar.
Itulah yang membuat Tuhan kita memberikan 1 mulut dan 2 telinga.
Lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara, bukan berarti kita hanya bisa berdiam diri tanpa alasan sambil berjongkok di pojokan dengan efek-efek suram seperti dalam anime.
Ada banyak hal yang penting kita bicarakan, namun ada banyak hal pula yang sama sekali tidak penting untuk kita frontalkan, karena dunia ini tidak membutuhkan diskusi yang hanya berputar di tempat tanpa penyelesaian masalah. Dunia ini membutuhkan solusi dan penyelesaian suatu debat dan masalah.

Jangan pernah membanggakan apa yang buruk dari dirimu atau orang-orang terdekatmu. Apapun alasannya baik itu untuk suatu pembalasan dendam, pengejekan, keputusasaan yang tidak berujung, atau belum adanya solusi untuk hal buruk tersebut, tidaklah baik untuk membawanya menjadi sesuatu yang membuat kita tertawa dan bangga.
Umur memanglah salah satu faktor untuk melihat kita bertumbuh dewasa, namun hanya secara fisik saja.
Umur tidak pernah memastikan apakah watak dan sikap seseorang akan dipastikan dewasa seperti perubahan pada fisiknya.

Biarlah kita menjadi orang yang dewasa secara umur dan perilaku, dimana kita dapat membedakan apa yang harus kita banggakan dan pikirkan, apa yang harus kita jaga dan beritahukan, apa yang harus kita frontalkan dan perhatikan/dengarkan.

Semoga share dari saya hari ini berguna buat pembaca. Jika ada kata atau kalimat yang menyinggung, tidak berbobot, dan salah dalam penulisan baik sengaja maupun tidak, saya mohon maaf.
Terimakasih. GBU :)

Selasa, 05 Februari 2013

Espaguetis

Halo pemirsa yang berada di dunia sana, topik kita hari ini mungkin sedikit membawa lapar, khususnya buat saya sendiri yang memang sedang lapar meratapi nasib dan membayangkan Espaguetis alias Spaghetti!!
Spaghetti Bolognese
Tarrrraaaaa~!! Ada yang belum pernah lihat atau makan spaghetti? Yuk silahkan dipandangi dan dibayangkan betapa nikmat dan menyenangkannya memakan spaghetti~ yummy :3
Pengalaman hidup saya dengan si makanan spaghetti ini cukup banyak, namun jujurnya saya baru menyukai spaghetti setelah saya SMA.
Why??? Kenapa cc??
Entah kenapa ya saya juga bingung hahahaa... Saat masih kecil, tepatnya sebelum menduduki bangku SMA, makanan yang disebut spaghetti ini adalah makanan yang membuat mual baik secara visual dan penciuman.
Baunya sangat aneh dan benar-benar tidak ada toleransi apalagi alasan untuk memakan pasta tersebut.
Mungkin lebih aneh lagi ketika orang menawarkan saya sepiring spaghetti mahal, dan saya hanya menjawab satu kata singkat "Hiii~" atau "Hoeekk~".
Terus kenapa sekarang suka spaghetti mbak?
Awalnya karena melihat teman-teman yang asik memakan spaghetti dengan mata berbinar-binar seperti tidak makan apa-apa selama setahun *busung lapar dong mbak~*
Inilah namanya tertarik dari penglihatan atau visual yang berasal dari wajah-wajah pemakan spaghetti, sehingga saya dengan segala jerih payah belajar mengenal rasa spaghetti.
Pertama kali saya memakan spaghetti, perasaan berkata "Ada makanan aneh di mulut gue aaaaa~ Kunyah ga ya kunyah ga yaaa..."
Yang namanya makanan terlalu lama tertimbun di mulut apapun rasanya akan berubah menjadi sesuatu yang membuat mual baik dari mulut maupun sugesti. Spaghetti terpendam di mulut saya, dan alhasil saya berhasil menelannya dengan seribu bahasa pemujaan "wawewowaweeeekkk~hoeekk~ eeekkookkkeeekkk"
Pesimis akan spaghetti mulai datang. Ternyata memang saya ditakdirkan untuk menelan spaghetti, apapun alasannya~ *lebai lo mbak, udah kaya mau nelen racun aja lo*
Hari selanjutnya, saya terpaksa menemani orangtua untuk makan spaghetti *oogghhh nooo~!!*
Tetapi hari itu ada yang beda, karena saya melihat orangtua mengambil spaghetti dan dibagi dua ke piring saya dengan alasan "sini bagi dua ya sama mama"
Mulailah saya memakan lagi makanan super bau ini. Dan, alhasil....
"Enaaaakkkk~"
Ternyata jika kita memakan tanpa bersugesti dulu sebelum mencobanya, maka rasa makanan yang kita makan belum tentu tidak enak. Biasanya untuk kebiasaan takut mengunyah dan membiarkan makanan dalam mulut duduk manis dalam waktu lama sambil bersugesti negatif, makanan itu memang menjadi sangat tidak enak dan bermusuhan dengan kita.
Sejak saat itu saya menyukai spaghetti dan hingga sekarang saya memasak spaghetti sendiri di rumah.
Nah, saya mau share resep spaghetti sederhana yang biasa saya buat di rumah. Resep ini tidak expert atau kelas internasional, sederhana dan biasa ditemui dimana saja.

Resep Spaghetti Bolognese sederhana <3
Bahan:
Spaghetti secukupnya (biasa saya pakai 1/3 dari kantong spaghetti standar)
Daging sapi cincang 1-2 ons
Bawang Bombay 1/3 dari bundarannya, potong kecil/iris
Saos Tomat 5-6 sendok makan (jika mau ditambah/ dikurangi boleh saja)
Garam secukupnya
Bawang putih 2 siung (jika diulek) / 3 sendok makan bubuk bawang putih
Merica 5 butir (jika diulek) / 1 sendok makan lada putih bubuk
Keju balok/batangan
Minyak goreng/ Mentega secukupnya
Daun origano kering 2 sendok makan
Daun peterseli 1 sendok teh (ukuran panjangnya)

Untuk spaghetti:
Rebus spaghetti hingga empuk dan tiriskan. Setelah ditiris, taruh di piring sambil menunggu saos spaghetti dimasak.

Cara membuat saos spaghetti:
1. Masukkan minyak goreng atau mentega ke dalam wajan/ penggorengan hingga minyak panas/ mentega meleleh seluruhnya
2. Masukkan ulekan bawang putih/ bubuk bawang putih, ulekan merica/bubuk lada putih, dan garam ke dalam wajan. Penggunaan garam khusus yang memakai mentega untuk menggoreng harus lebih sedikit, dan untuk menjaga rasa agar tidak keasinan, masukkan 1/2 sendok teh garam.
3. Masukkan daging dan goreng hingga seluruhnya matang (coklat muda warnanya)
4. Masukkan bawang bombay dan bersama daging sampai rata
5. Masukkan saos tomat dan aduk bersama daging hingga merata, cicipi sedikit apakah rasanya sudah pas, jika belum dapat menambahkan garam atau saos tomat secukupnya
6. Taburkan daun origano kering ke dalam wajan dan aduk bersama daging yang telah tercampur dengan saos tomat
7. Siram saos spaghetti yang sudah jadi ke atas spaghetti yang sudah ditiriskan.
8. Parut keju balok dan taburkan keatas spaghetti
9. Letakkan dengan rapi daun peterseli diatas spaghetti atau di sekitar piring sebagai hiasan.

Silahkan mencoba ^^



Minggu, 03 Februari 2013

Your angry can make your world cries

Hari ini tepat dengan tanggal 3 Februari 2013, tepat pada pukul 23.30 saya menulis blog ini.
Hari yang biasa-biasa saja, dan spesial seperti hari-hari biasanya.
Spesial gimana kak?
Hari adalah waktu yang diberikan Tuhan secara spesial untuk kita kan?
Topik hari ini bukan membahas tentang hari, spesial, atau bulan Februari, atau pukul 23.30
Sesuai judulnya saja "Your angry can make your world cries", kemarahanmu dapat membuat duniamu menangis.
Well, hari ini adalah hari yang super fantastis buat saya untuk urusan atur napas atur emosi.
Pagi sampai malam, tidak ada emosi yang terlewat sejengkal pun, dan puncak acara dimana sore hari yang cukup letih, penuh pengorbanan, dan lagi-lagi kesabaran menjadi bahan ujian nasional.

Tidak hari ini saja sebetulnya...

Kemarin secara kebetulan atau memang takdir, dan kebetulan juga saya tidak terlalu percaya akan adanya takdir, dimana saya melihat feed facebook yang banyak memposting segala emosi manusia.
Saat itu secara kebetulan juga saya sedang sibuk bermain santai game facebook tanam menanam, untuk refreshing karena terlalu banyak membaca buku-buku sakti demi bekal di masa depan.
Melihat feed facebook yang secara bergantian tentang masing-masing emosi manusia, saya hanya dapat berkata "wonderful day" dengan senyuman sinis dan pikiran yang bombastis "facebook bukan diary masbro, emang lo ga malu apa masalah lo diliat publik? atau menurut lo bisa eksis kalo marah-marah ga karuan di facebook? atau lo butuh dukungan? atau lo emang ga pernah punya dukungan? atau lo minta belas kasihan para pemirsa seperti layaknya reality show? kenapa lo ga ikut reality show aja daripada malu-maluin diri lo di facebook?"
Wah pikiran jahat memang banyak saat melihat postingan penuh emosi di facebook, dan namanya manusia pasti suka lepas kendali seperti saya dalam hal berpikir demikian, dan para facebooker yang tidak bosan-bosannya melampiaskan emosi bombastisnya ke dalam status facebook.
So..
Kalau sudah emosi, apakah selamanya mau terus begitu?
Atau dengan melampiaskan segala emosi hari ini untuk bekal di hari esok dan masa depan seperti dendam sampai mati, pertengkaran sampai tumpah darah, atau permusuhan sampai beranak cucu?
Ada banyak hal yang bisa dimaklumi dari sikap manusia yang sedang emosi, namum terkadang emosi itu membutakan mata kita untuk berpikir realistis.
Emosi yang membara akan mebuat fantasi negatif pada pikiran kita sendiri dimana tubuh dan jiwa kita bukanlah dikendalikan oleh diri kita, namun dikendalikan oleh hawa nafsu.
Hawa nafsu kak? Emang mau perkosa orang?
Hawa nafsu yang saya maksud adalah emosi itu sendiri. Emosi membutakan mata luar dan mata hati kita. Emosi juga menghentikan kita untuk berpikir mencari solusi, dan memberikan jalan ke arah negatif seperti dendam, permusuhan, iri hati, bahkan fatalnya ada yang sampai bisa melakukan pembunuhan.

Marilah kita belajar untuk mencari antisipasi dalam menangani emosi..
Bagaimana caranya?
Mungkin secara medis atau umum, dimana kita harus menarik nafas panjang, duduk tenang, mencari tempat tenang tanpa hiruk pikuk, atau bahkan ada yang memakan coklat, dimana coklat menjadi makanan yang melegakan saat sedang kacau balau.
Cara yang seperti saya sebutkan tadi itu memang benar, dan terbukti sekali kebenarannya dengan melihat kehidupan sehari-hari saja.
Tetapi, apakah kita benar-benar menghentikan efek samping emosi tersebut, atau hanya menenangkannya sementara saja?
Sebut saja namanya dendam. Memang sulit untuk membahas kata dendam ini, dibilang dosa ya dosa, namun masih banyak orang yang tidak perduli tentang dosa untuk urusan yang disebut dendam.

Sedikit kisah yang akan saya share hari ini, dimana saya kecewa dan marah besar karena merasa tidak direspeki usaha saya untuk menghadiri acara kumpul-kumpul bersama.
Emosi yang berlebihan membuat saya berpikir negatif, sehingga saya sulit memaafkan orang lain untuk beberapa jam sebelum saya menulis blog ini.
Emosi ini membuat saya letih secara lahir dan batin, ditambah lagi dengan jalanan macet di Jakarta dan cuaca yang sebentar panas sebentar lembab, sehingga seperti menghadapi neraka di depan mata, atau lokasi pembakaran mayat dimana kita bisa sepuasnya membakar mayat itu sampai habis menjadi abu.
Saat teduh..
Itulah yang saya lakukan untuk waktu yang sempit dimana terlalu banyak waktu untuk mengikuti semangat si emosi ini. Saat teduh dalam kepercayaan saya, adalah dimana kita meneduhkan hati dan pikiran kita secara total, dan mengarahkan seluruh jiwa dan raga kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Saat teduh dapat membuat kita lebih terkendali karena adanya iman, dan melepaskan perlahan hawa nafsu dan emosi kita.
Ada baiknya jika ini dipraktekkan kepada kalian yang saat ini mungkin belum bisa mengendalikan emosi, atau masih dendam terhadap sesuatu hanya karena urusan sepele atau berat.

Bagi yang urusannya sepele seperti bertengkar dengan orang lain karena urusan cinta (dalam arti hanya mencari titik permusuhan bukan solusi), atau sakit hati karena candaan dan guyonan, atau marah karena merasa tidak direspeki, atau lainnya dalam arti sepele dimana urusan itu hanya menyakiti tubuh kalian jika terus emosi tanpa adanya keuntungan apapun, lebih baik lakukanlah saat teduh ini.
Tidak berbicara soal agama, ras ataupun lainnya, saat teduh ini bisa digunakan oleh semua orang, semua agama, dan semua kepercayaan, dengan menujukan jiwa raga kepada Tuhan yang kita percayai masing-masing.
Pikirkanlah tentang betapa sakitnya tubuh dan jiwamu, betapa perihnya duniamu sehingga dia hanya dapat menangis karena siksaan emosimu sendiri yang cepat lambat menelan kesadaran dan jiwamu.
Jika memang tidak ada untungnya melampiaskan emosi yang berlebihan, mengapa kita mau bersusah payah dan berletih penuh duka untuk mengikuti emosi kita?
Jika memang tidak ada solusi dengan cara mengeluarkan emosi berlebihan, mengapa kita rela mengorbankan diri kita untuk mengikuti emosi kita?

Bagi yang urusannya berat, seperti ada keluarga yang disakiti, dibunuh, atau sikap yang tidak berperi kemanusiaan dan diluar norma masyarakat, marilah kita belajar untuk memaafkan.
"Eh gampang bener lo bilang memaafkan secara lo cuma penulis omong kosong yang ga pernah ngerasain penderitaan sekeras itu kan?"
Yaa, saya memang seorang penulis saja di blog ini, dan saya pun mungkin tidak mengerti sesulit apa kehidupan kalian untuk mengatasi dendam dan emosi itu.
Tetapi disini saya ingin memberikan masukan, yang siapa tahu bisa membantu, dan jika tidak, anggaplah saja ini sebagai tulisan omong kosong, sehingga maafkan saya yang hanya bisa menulis saja.
Memaafkan adalah suatu sikap yang sulit dan paling sulit untuk dilakukan, namun mudah untuk dikatakan.
Setiap orang bisa berkata "maafkan saya" atau "saya maafkan", padahal belum tentu isi hati berucap maaf, atau memaafkan orang lain.
Untuk topik memaafkan, mohon maaf tidak saya bahas disini, karena sudah saya posting di awal blog ini saya buat.
Boleh cekidot :)
http://rinadventchan.blogspot.com/2011/12/about-forgiveness-tentang-mengampuni.html

Buat para aktivis dunia maya baik para facebookers, tweet, bloggers, gamers, dan lainnya..
Ingat bahwa dunia maya adalah majalah publik yang setiap hari diupdate untuk dilihat oleh mata masyarakat luas.
Ada baiknya jika emosi dan amarah itu tidak terlalu sering dilampiaskan ke dalam dunia maya, apalagi jika karena suatu masalah yang hanya dilihat sepihak atau belum jelas titik benar dan salahnya.
Terkadang postingan itu bukanlah memberikan kita suatu dukungan atau saran manis dari ketikan para pemirsa yang membaca.
Ada pro, ada kontra. Saat kontra berbicara, maka postingan kalian bisa saja menjadi ajang ribut sedunia atau cikal bakal permusuhan dimana yang tidak menyukai anda akan berbicara secara blak-blakan atau langsung membawa anda ke pihak yang berwajib.
Kita boleh bicara soal kebenaran, namun apa yang kita anggap benar, belum tentu semua orang merasa pendapat itu benar. Sekalipun memang itu "benar", belum tentu semua orang mendukung, bahkan malah dapat menjadi senjata makan tuan bagi diri kita masing-masing.

Biarlah emosi kita berbicara sesaat saja, bukan menjadi vokal utama dalam hidup kita.
Segala sesuatu yang mengalir tenang akan jauh lebih baik, daripada sesuatu yang tertumpah berlebihan sehingga menimbulkan bendungan atau banjir permusuhan.

Sekian tulisan dari saya. Terimakasih bagi pembaca yang sudah rela meluangkan waktu untuk membaca blog saya, dan mohon maaf apabila ada kata-kata, kalimat yang mengejek atau tidak pantas atau membuat sakit hati, karena ketidak sengajaan penulis.
Tentunya saya menerima kritik dan saran dari kalian semua. GBU :)

Masukan yang membangun dari Ryan Hutomo
Saat kita susah dan terpuruk, kita sering bertanya "kenapa harus kita yang terpuruk?"
Namun saat kita senang, pernahkan kita bertanya "kenapa harus kita yang senang?"

*Kadang, emosi dan amarah membuat kita merasa puas dan senang, serasa membalaskan dendam dan memusnahkan musuh-musuh kita. Namun, apakah kita pernah berpikir mengapa kita senang dengan hal yang   menyulitkan orang lain? Sedangkan saat kita terpuruk, kita hanya dapat bertanya, "kenapa harus saya?" dan "kenapa harus mereka yang senang?" atau "kenapa tidak ada yang mengerti saya?"
Sesekali marilah kita berpikir tentang diri kita jika berada di posisi orang yang menjadi pelampiasan emosi kita. "Jika saya jadi dia, apakah saya akan senang? Apakah saya akan terima keadaan? Ataukah memang saya hanya mental yang lemah hanya bisa bermulut kejam namun tidak tahan banting ketika pembalasan itu datang?"

Jumat, 01 Februari 2013

Chivalry

Chivalry atau diartikan menjadi "kesopanan" dan "keksatrian" yang akan saya bahas hari ini tidak mengintip dari cara pandang saya dalam berpikir. Sekedar sharing dengan memberikan kisah seseorang yang menurut saya, cukup memenuhi kata "Chivalry" ini
Begini ceritanya... *creepy sound*

Kisah seseorang, sebut saja namanya Ed, adalah orang yang "welcome" dengan semua manusia jenis apapun di dunia ini, menurut saya yaa..
Dia menjalani hari dengan kuliah, bermain game, beribadah, berkumpul bersama teman-teman, dan memiliki kepribadian pendiam, tidak banyak bicara.
Pukul 5 pagi biasanya Ed sudah membuka matanya untuk melihat dunia, dan segera melakukan aktivitas yang menjadi rutinitasnya sehari-hari.
Suatu hari Ed mengenal sosok wanita yang dipenuhi dengan dendam dan emosi yang tidak bisa dikendalikan.
Hari itu juga Ed bersikap seperti biasanya untuk selalu ramah kepada orang yang baru dikenalnya.
Wanita yang emosi itu memiliki tingkat kesombongan kelas menengah, dimana dia merasa tidak pernah melihat apalagi mendengar nama Ed.
Namun, semua berubah setelah perkenalan dengan Ed terjadi begitu saja. Perlahan setiap ucapan yang keluar dari mulut wanita tersebut menjadi sebuah cerita tentang bagaimana resah dan kesulitan hidupnya saat itu.
Wanita itu bisa melampiaskan segala emosinya kepada Ed dengan marah, kesal, dan bercerita sampai semua emosi terkuak dari hatinya, hingga suatu hari kenyamanan itu terasa diantara Ed dan wanita tersebut.
Well, love is sacrifice, itulah yang menjadi kebimbangan diantara 2 insan.
Perbedaan dan tekanan dimana tidak bisanya terjadi suatu hubungan. Namun, ternyata relasi itu bisa menjadi nyata, dimana Ed dan wanita tersebut bisa saling mencintai satu sama lain.
Memang sampai saat ini belum dipahami mengapa mereka bisa membuat suatu relasi dan entah apakah Ed memang mencintai wanita itu dengan yakin atau tidak.
Tetapi satu hal yang pasti, sikap wanita itu menjadi banyak berubah lebih baik dari sebelumnya.
Emosi yang selalu membakar hati wanita tersebut selalu tersiram dengan kenyamanan bersama Ed.
Ed selalu mau mengakui segala kesalahan dan kebenaran, dan tidak pernah terpikat dengan kata-kata orang yang menjelekkan orang lain.
How about his "chivalry"?
Sikap keksatriannya itu adalah dimana Ed bisa menenangkan perasaan orang lain, bisa memberi semangat yang positif, dan berani mengakui kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Nilai kejujurannya gimana kak?
Nilai kejujuran untuk Ed, mungkin cukup baik, dan semoga akan selalu terus menjadi orang yang jujur dalam setiap langkah di kehidupannya.